Labels

Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 April 2014

another name of 'Move On'

Hidup ini seperti sebuah pertandingan, kamu gak akan pernah tau siapa yang menunggu kamu di garis finish kalo kamu gak pernah mampu buat ngelewatin pertandingan ini.
Yah, intinya sama, kamu gak bakal tau siapa yang disana akan jadi pendamping kamu kalo kamu gak pernah ngejalanin masa masa sulit kamu buat move on.

untuk membuat segalanya terasa mudah, aku mencoba menjalani hari ini, kemarin, esok dengan memikirkan, apa yang sebaiknya untuk diriku di masa depan. bukankah mencintai saja bukan berarti hidup akan lebih indah di masa depan?

aku sudah bisa melewati masa -move on- dari kegagalan cinta ku yang terakhir. setiap hidup memiliki kegagalan dan cara penyelesaian yang berbeda. aku sudah bisa menyelesaikan masalahku sendiri.
hingga pada akhirnya, aku terlalu senang dengan kata -move on- dan aku lupa cara untuk membuka diri lagi untuk yang lain.

move on bukan berarti kita sudah menemukan seorang pengganti yang baru, bagiku move on adalah cara untuk meyembuhkan masalah dalam kegagalan cinta.

aku menyadari bahwa aku sudah bisa move on adalah disaat aku sudah bisa menghapus semua conversation yang tersimpan, foto, dan segala kata-kata manis darinya yang aku tulis di notes handphone.

menghapus kenangan itu sebenarnya bukan karena sulit, tapi karena kita takut kita tidak bisa mengingat akan masalalu. tapi itulah cara ku untuk bisa move on.
karena mengingat masa lalu bukanlah hal yang indah atau hal yang menyakitkan, tapi bagiku dia hanya sebagai memori karena kita pernah melakukan hal itu.

menghapus kenangan bukan berarti membuka lembaran kenangan yang baru, hanya saja kita ingin menyimpan kenangan lama itu di tempat yang berbeda.

untuk bisa menjalani ini semua, tentu air mata menjadi salah satu teman yang tak asing, sampai sekarang pun, beban dimasa lalu ku terasa begitu berat di bahuku, sampai sekarang seluruh kenangan itu masih membuat dada terasa sakit dan membuat air mata ini mengalir.
tapi di saat itu aku mengerti, semua kenangan itu tak pernah bisa aku lupakan.
seberapa berat kita mencoba mengabaikan, maka akan semakin banyak kenangan yang muncul.

jika pada akhirnya move on dengan segala cara tidak lah berhasil, cobalah untuk move back.
jika kamu merasa move on sungguhlah berat, try to move back, mungkin kegagalan yang kamu lakuin, kesalahan itu bisa lagi diperbaiki, kesalahan dalam hubungan yang sama mungkin akan muncul, tetapi pasti mereka memiliki cara penyelesaian yang berbeda.

Jumat, 03 Januari 2014

gak ngerti kudu dikasih judul apa~~

Cinta dan waktu akan saling berkaitan, lamanya waktu mungkin akan mempengaruhi cinta. Dan aku harap cintaku ini akan selalu tumbuh seiring berjalannya waktu, hubungan ku dengan lelaki yang ku cintai, yang sudah mendampingiku selama 4 tahun, yang sudah berbagi segala kisah hidupnya dengan ku, lelaki yang amat ku cintai setelah Ayah ku, lelaki yang sampai saat ini, aku berdo’a dia menjadi jodohku nantinya.
Lelaki ini bukanlah type yang sama dengan lelaki lain di luar sana, dia tak pernah menuntut ku untuk ini itu, karena, menurut dia, suatu hubungan bukanlah karena tuntutan, batasan, kekangan, tapi kita harus saling tahu diri. Aku tahu diri, aku siapa, jadi aku tahu batasan ku ketika aku di luar, aku tahu diri aku memberi kepercayaan penuh kepada dia, karena aku tahu, aku sudah memegang komitmen untuk saling bersama. Kepercayaan, kejujuran, setia, lelaki ini tak pernah memaksa ku untuk melakukan hal ini, karena pada dasarnya aku sudah tahu, ini lah sesuatu yang harus dijalani oleh dua orang yang sudah berkomitmen untuk bersama.

“”
To : Dearest
Bagaimana pagi mu hari ini? Aku harap masih mencintai ku
From : Dearest
Aku masih mencintai mu dan akan tetap selalu mencintai mu

Kita bukan lagi remaja yang di mabuk cinta dengan komunikasi yang terlalu sering, aku menyapanya setiap pagi, dan terkadang, sapaan pagi akan menjadi sapaan terakhir di hari ini. Lelaki ini sudah mencintai ku, bagi ku adalah cukup, saling mencintai adalah sesuatu yang penting dalam setiap hubungan.
Tapi, bukan berarti tak mencintai, kita bisa saja berhenti untuk bersama, karena akan selalu ada aku yang mencintai mu, tanpa perlu kamu mencintai ku, aku masih ingin tetap kita bersama.

“”
“sudah lama kita gak pergi bareng, aku kangen suasana malem seperti ini” di tengah keramaian cafe ini, aku mencoba untuk tetap menunjukkan seberapa pentingnya arti hadirnya untuk setiap malam ku.
“iya, aku juga kangen, tapi aku mau ngomong sesuatu sama kamu”
“apa? Apa ada yang serius?”
“kamu tau, kita sudah lama seperti ini, bersama, setiap waktu.......”
“engga, kita udah jarang ketemu.....”
“iya, maksud ku, kita udah lama bersama.... dan sepertinya aku masih harus mikir lagi, harus menjalani hubungan ini atau engga....”
..............
“maafin aku...”
Aku gak ngerti harus gimana lagi kecuali menangis, menangis, menangis.... memohon untuk dia tetap tinggal, tapi tetap bibir terlalu kelu untuk mengeluarkan kata-kata memohon.... aku sama sekali nggak ngerti, bukankah cinta saja sudah cukup untuk membuat orang tetap tinggal di samping kita?
“kamu selingkuh?” tanya ku dengan segala kekuatan ku
“enggak, aku enggak pernah selingkuh sekalipun itu, aku cuman masih harus mikir bagaimana kelanjutan hubungan ini, bukan berarti aku udah gak sayang kamu... justru aku sayang banget sama kamu”
“bohong, kalo kamu sayang, kenapa harus kaya gini, bukankah cinta aja udah cukup untuk tau bagaimana kelanjutan hubungan ini?”

Aku meninggalkannya sendiri disana, dan aku masih belum paham, bagaimana bisa dua orang manusia yang sudah bersama-sama begitu lamanya mencintai, berbagi kasih sayang, tiba-tiba berjalan sendiri-sendiri lagi. Cinta yang sudah begitu menyenangkan tiba-tiba harus ada kenangan yang menyedihkan. Cinta yang sudah begitu eratnya, dengan mudah terpisah dengan tiba-tiba. Sebenarnya itu apa? Haruskah ada hal yang begitu menyedihkan dalam cinta? Haruskah cinta itu di sertai dengan tangisan? Haruskah cinta itu pada akhirnya akan ditinggalkan?

Aku harus mencari tau, ini bukan lah akhir dari cinta, jika ternyata ada airmata yang harus menetes pada setiap cinta.

“”

Aku mendatangi kampus ini lagi, setelah peristiwa yang begitu menyayat sehingga sekecil apapun cahaya harapan untuk kembali bersama, terasa begitu membahagiakan.
Aku berharap mendapat jawaban yang berbeda, ketika lelaki yang sudah ku kenal lama ini melihat ku dengan wajah yang tak ku tunjukan kesedihan. Aku berharap ia dapat menarik ucapan yang sama sekali aku belum bisa lupakan, sehuruf pun apa yang di ucapkannya.

“Selamat pagi, bagaimana hari mu hari ini?” sapa ku dengan ku tahan semua airmata yang ingin menetes tapi masih ku tahan demi lelaki yang paling ku cintai ini.
“Selamat pagi, kamu ngapain kesini? Cepet pulang gih, mendung banget sekarang... aku ada kelas, aku ke kelas dulu ya..” lalu pergi, tanpa kata-kata lain yang sangat ingin ku dengar....Sayang...

Aku masih belum ingin menyerah, untuk memperbaiki apa yang sebenarnya harus di perbaiki, aku masih akan terus memohon, sampai lelaki ini benar-benar menunjukkan bahwa dia udah gak mau lagi dengan ku. Karena aku sangat yakin, bukan cinta jika pada akhirnya harus ada yang terluka.

“”

“Aku mau ngomong sama kamu”
“Maaf, aku ada urusan lain....”
Ini bukan lelaki yang sudah mendampingi ku 4 tahun, ini bukan lelaki yang mencintaiku seperti biasanya.
“Yasudah, aku cuman mau bilang, makasih, makasih kamu udah nunjukin sikap ini, sikap yang bilang, kalau kamu udah gak mau lagi sama aku, okee aku akan berhenti memohon ke kamu, ngejar-ngejar kamu, percuma kalo kamunya sendiri gak mau di kejar. Makasih untuk semua dan maaf. Dan perlu kamu tau, hargailah orang-orang yang mencintaimu, karena ia berkorban, mengemis cinta untuk mu, karena ia hanya ingin menunjukkan seberapa berharganya kamu untuk dia. Makasih, aku cukup tahu diri sekarang”

Aku kuat, aku harus kuat tanpa air mata yang dapat melemah kan ku, aku harus kuat, karena air mata bukanlah cara yang terbaik untuk mengatasi masalah, aku harus kuat, karena aku tau, ini bukanlah cinta yang seperti orang bicarakan.


“”

Lama sudah aku sendiri, berjalan sendiri, tanpa orang yang ku cintai lagi, tanpa orang yang sering ku kasihi, dan aku mengerti, ada kalanya kita harus sendiri, dan ada kalanya kita harus bersama. Mungkin memang ini waktunya aku sendiri. Bukan karena aku yang ingin sendiri, tapi dia, lelaki itu menginginkan aku sendirian.

Jika pada akhirnya dua orang itu harus berjalan sendiri-sendiri dengan tujuan yang berbeda, percuma waktu yang telah mereka jalani bersama jika mereka belum bisa mengubah jalan tujuan mereka menjadi sama.

Jika ternyata tujuan mereka berbeda pada awalnya, kenapa mereka bisa bertemu di persimpangan jalan?

Kalau ada dua orang yang memutuskan untuk berjalan bersama-sama, berarti mereka punya tujuan yang sama, jika di tengah jalan mereka berpisah, itu berarti mereka hanya ingin mencari teman ketika di perjalanan, bukan berjalan untuk mencapai tujuan.

Aku menyakini, orang yang sudah sekian lama berjalan bersama, ketika berhenti di tengah jalan dengan alasan tujuan mereka berbeda, sebenarnya salah satu dari mereka belum memiliki tujuan.

Lelaki yang dulu amat ku cintai memutuskan berjalan dengan ku dengan tujuan yang sama, jika pada akhirnya dia mulai goyah untuk melanjutkan perjalanan ini atau enggak, aku rasa dia masih belum memiliki tujuan. Bagaimana bisa aku berjalan dengan seseorang yang buta arah?

“”

“Dis, aku mau ngomong.. dengerin aku sebentar aja”
Lelaki yang masih begitu hangat di mataku tiba-tiba menghadirkan kembali aroma parfum kesukaan ku.
“apa?”
“Maaf, aku tahu aku udah bikin kesalahan yang amat sangat fatal, aku tahu aku aku udah bikin kamu nangis, kecewa, marah sama aku. Tapi sekarang, mulai saat ini aku janji, aku gak akan bikin kamu kaya gitu lagi.”
“Jadi maksud kamu?”
“Maaf Dis, aku minta maaf banget, tapi sekarang aku tahu harus kemana arah hubungan ini. Aku udah ngerti harus gimana ngadepin hubungan ini...”
..................
“Dis, maafin aku, kamu mau kan ngelanjutin ini lagi?”
Aku masih aja diam, memikirkan kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang seharusnya aku ungkapkan. Mengutarakan apa yang seharusnya ia dengar.
“Iya, aku maafin, tapi........... seharusnya kamu tahu diri, seperti yang biasa kamu bilang, tahu diri siapa kamu sekarang, siapa kamu dulu... kamu bilang kamu udah tahu mau kemana arah hubungan ini, tapi aku juga tahu, arah tujuan ku udah gak sama lagi sama kamu. Bagaimana aku bisa berjalan dengan orang yang baru aku kenal di persimpangan jalan?”
“Maaf Dis, tapi aku sama sekali gak bermaksud seperti itu..”
“Kamu tau kan? Vas bunga yang udah jatuh, pecah, gak bisa lagi kembali utuh. Sama kaya aku, gak bisa lagi utuh kalo aku harus maksain buat jalanin ini lagi... Maaf Ron...”

“”
Cinta, dan aku masih berpendapat, jika cinta, tak mungkin pada akhirnya harus ada yang terluka dan ada air mata. Jika cinta begitu di paksakan untuk tetap bertahan di keadaan terluka dan air mata, aku yakin itu bukanlah cinta. Tetapi kesedihan yang seharusnya kita redam, buang jauh-jauh.


Unforgettable Conversation



“Kamu tau, kenapa lelaki dan wanita harus berjalan bersama dengan tujuan yang sama?”
“Mungkin karena dengan itulah, kehidupan akan tetap berlangsung”
“Bagaimana jika kedua orang itu harus kembali berjalan sendiri-sendiri?”
“Pastinya kehidupan mereka akan berubah”
“Menurut kamu, kalau dua orang itu sudah berubah jalan, mungkin tidak mereka akan bertemu lagi?”
“Ya enggak lah, mereka sudah berjalan berbeda arah, tujuan mereka pasti sudah berbeda, bagaimana mungkin mereka bertemu lagi?”
“Kenapa ya dua orang yang berjalan udah lama, bersama, tiba-tiba mereka berhenti berjalan dan memutuskan untuk merubah arah mereka?”
“Mungkin karena salah satu dari mereka ada yang merubahnya, waktu, keadaan, orang lain misalnya”
“Bukankah mereka berjalannya bersama-sama? Bagaimana bisa yang berubah hanya salah satu dari mereka?”
“Jika diantara mereka ada yang berubah, pastilah keduanya akan berubah. Berubah karena perubahan sikap salah satunya atau berubah juga karena pengaruh itu tadi, tapi mereka nangkep perubahan itu beda-beda. Makanya perubahan mereka gak sama”
“Aku masih gak paham kenapa dua orang yang begitu lamanya berjalan bersama, begitu eratna mereka bergandengan tangan, seolah mereka tak akan berubah arah, tiba-tiba berhenti. Kira-kira siapa yang memutuskan ingin berhenti?
“Kalo itu aku gak tahu, karena berhenti tidaknya mereka tergatung dari tujuan akhir dan seberapa jauh mereka berjalan. Kalo tujuan akhir mereka udah deket dan tiba-tiba mereka berhenti, pasti mereka udah berjalan terlalu jauh, terlalu lama dan mereka ingin berhenti, mungkin istilahnya capek”
“Waktu bisa aja ngerubah orang ya ternyata”
“Iya, bukan cuman waktu, tapi orang itu sendiri yang juga ingin merubah jalannya.”
“Ardi?”
“Iya Sayang?”
“Kamu gak akan kaya gitu kan?”

“Aku? Hhehe. Aku emang udah lama sama kamu, tapi ketika aku ingin memutuskan berjalan sama kamu, aku sudah tau jalan mana yang akan aku tempuh dan aku juga udah tahu arah mana yang sedang kamu ambil. Berubah, pasti lah orang itu akan berubah seiring berjalannya waktu, keadaan sekitar, dan orang lain yang ingin ngerubah aku, tapi perubahan itu tetep sama, aku berubah menjadi lebih baik karena waktu ku, keadaan ku, dan kamu yang udah ngerubah aku jadi lebih baik. Kalaupun tujuan akhir ku ternyata berbelok arah dengan tujuan akhir kamu, maka aku siap untuk merubah tujuan akhir ku sama dengan tujuan kamu, karena bagaimana jalan ku, kamu lah tujuan ku.”

Isyarat yang kamu terima

Ini cinta, bukan cuman kamu sama aku, tapi juga dia, yang pernah menjadi bagian hidupmu, selama bertahun-tahun, selama itu juga kamu tumbuh dewasa, kamu mengerti bagaimana mencintai dan dicintai, bagaimana bahagia, bagaimana memahami, mengerti, dan bagaimana terluka.
Aku mengenalmu saat kamu masih bersama dia, bersama wanita mu yang selalu kau ceritakan, wanita terindah yang pernah hadir dalam hidupmu. Aku mengenalmu saat cintaku sudah hilang, cintaku yang meninggalkan ku saat aku benar-benar cinta. Dan aku merasa iri, kepada wanita mu, yang pasti sangat bahagia memiliki mu.
Aku tahu, mencintai itu indah, aku tahu, bahagia rasanya disamping orang yang mencintai kita.
Dan ini tetap cinta, ketika aku, dan kamu tanpa dia. Tetapi dengan mereka. Perempuan yang kamu cintai.

“”

“Aku putus sama dia, aku ngerasa bosan” ucap lelaki itu di depan ku dengan wajah begitu sedih dan masih tak percaya harus berpisah dengan seperti ini.
“Loh kok bisa? Kalian udah lama banget, kenapa baru kali ini ngerasa bosen? Mungkin kalian cuman butuh suasana hubungan yang berbeda, coba deh liburan sama-sama” nasihat ku yang entah bagaimana aku bisa mengatakan seperti itu, padahal dalam hati, ada setengah kegembiraan saat dia mengucap, mereka sudah berpisah.
“Enggak tau, aku sudah berkali-kali ngerasain kaya gini, dan sekarang emang bener-bener aku bosan. Ini bukan lagi cinta.”
“Kenapa dua orang yang udah saling cinta, harus kembali berjalan sendiri-sendiri?”
“Karena jalan kita sudah berbeda, dia kearah yang lebih baik, sedangkan aku, masih mengingin kan arah ini”
Aku gak bisa berkata-kata, ini realita hidup yang memang bahagia itu berbanding lurus dengan kesedihan.

“”
Aku masih menjalin komunikasi dengan lelaki itu, dengan canda dan tawa ini, aku berbagi kesedihan dengannya, karna dia selalu menawarkan bahu untuk setiap kesedihanku.
Aku tak pernah menyebut wanita itu lagi, semenjak dia semakin dekat denganku, aku egois, aku tak pernah ingin dia kembali dengan wanita itu.
“Yuk jalan, kemana aja asal sama kamu deh” ucap ku di atas motornya, aku merasa bahagia, sebahagia wanita yang dulu ia ceritakan. Tapi aku sadar, bahagia akan selalu ada kesedihan nantinya.
Aku menikmati punggungnya, sebagai sandaran ku, aku mencintai lelaki dibalik punggung ini. Tapi aku sadar, semakin jauh aku mengenalnya, aku takut ia akan merasa bosan seperti apa yang dia lakukan dengan wanita itu.
“Kamu mau kemana besok? Aku jemput pagi-pagi ya”
“Mau kemana? Yasudah jangan pagi-pagi banget ya”
“Iya, pasti kamu seneng kok”

Dia mengajak ku ketempat favoritnya, Lapangan sepak bola, kesebelasan yang ia dukung.
Dia menceritakan berbagai banyak hal, yang tentunya tentang bola dan dirinya sendiri. Aku hanya mendengar dan sesekali bercerita tentang diriku, yang singkat.
Ini adalah unforgetable conversation bagiku, karena aku lebih mengerti bagaimana dia, bagaimana kehidupannya dan bagaimana sikapnya.

“”

“Aku mau cerita sama kamu, karna kamu udah sering banget dengerin cerita ku, aku udah gak ragu nih buat cerita ke kamu, tentang dia”
“Siapa? Tambatan hati yang baru?” dengan senyum yang biasa, aku seolah tak merasakan sakit.
“Iya, tapi bukan baru sih, udah lama aku suka sama cewek ini, tapi mesti kalah satu langkah, aku suka banget dari dulu awal aku kenal dia sampai sekarang, tapi dia udah punya cowok”
“Kamu sih, kalo suka langsung ngomong dong, biar gak sedih di akhir kaya gini” sebenarnya ini adalah ucapan yang pantas ditujukan untuk diriku sendiri.
“Iya, tapi kondisi dan waktu aja yang gak selalu tepat, mungkin lain kali, kalo dia udah putus sama cowoknya, tapi dia udah tau aku suka sama dia, ya gara-gara waktu dan kondisi aja ini yang susah banget”
“Yasudah, do’ain aja biar cepet putus yah J

“”

Ini bukan masalah aku mencintai tanpa dicintai, tapi aku mencintai seseorang yang seharusnya tak ku cintai, lelaki yang sudah jelas-jelas tak boleh aku cintai, malah harus merasakan begini dalam sakitnya.
Aku berniat untuk diam, tidak pernah lagi membicarakan cinta ini, bukan karena aku takut, tapi karena aku merasa bersalah, mencintai orang yang salah.

Dia sering menceritakan banyak perempuan lain, dan aku hanya bersikap ala kadarnya aku memberikan respon. Aku pernah menjauhinya, tapi ketika dia sadar aku berusaha menjauh dari dia, secepat mungkin aku bersikap seperti biasa, aku gak mau dia mencurigai perubahan sikap ku setelah dia bercerita tentang perempuan-perempuan itu.

“”

Bagaimana aku tidak sakit hati, setelah semua sikap dan perhatiannya yang dia tujukan kepada ku ternyata sama dengan semua perhatian untuk perempuan-perempuan itu.
Ah lelaki sama saja, tapi seharusnya aku tidak marah karena pada awalnya aku memang tau, setiap kebahagiaan, kesedihan akan menanti, kebahagiaan yang ia beri pastilah ada kesedihan.
Aku tetap saja menjadi temannya, mendengarkan berbagai ceritanya, dan akupun menceritakan hidupku, tapi aku sama sekali tak pernah ingin menceritakan cinta ini, cinta yang salah tempat, yang tak seharusnya berlabuh, yang tak seharusnya pernah ada.

Yang aku selali, kamu tak pernah sadar dengan isyarat yang telah kamu terima.


NB: Untuk yang ngerasa tokoh diatas, ini kisah bukan sebenarnya J

Sabtu, 21 Desember 2013

(Actually) Your best lover is your bestfriend



Bukankah kita di takdirkan bersama? Setelah masa-masa sulit kita berjalan dengan pengorbanan cinta kita? Tidakkah Tuhan memiliki rencana yang indah pada takdir cinta yang sedemikian lamanya kita bersama.
Aku memang menikmati cinta ini tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi seandainya dia, lelaki yang ku cintai, menemukan sosok yang lebih nyaman di bandingkan bersama ku, setelah 3 tahun merasakan bahu ku untuknya bersandar, dan tiba-tiba dia menemukan bahu yang lebih nyaman untuk bersandar.
Aku dan Ardi tak pernah menghiraukan perdebatan kecil ini, yang setiap hari, selalu mengusik malam ku, untuk menyesali, apa yang telah ku perbuat sehingga Ardi merasa tak nyaman dengan ku. Aku mungkin terlalu manja, menginginkan cinta yang begitu indah yang tak pernah ku harap ada perdebatan, tapi mustahil, jika ego ku selalu begini, tak pernah mengerti tentang keadaan Ardi.
Ardi sudah begitu indah, begitu mengertiku, begitu memahami setiap potongan lego harapan ku, dia selalu menemukan apa yang aku inginkan. Tapi tidak dengan ku.
Ardi memang berbeda dengan Ardi, setahun yang lalu, ketika cinta belum membentangi kita berdua, Ardi yang sekarang lebih baik, tapi aku, aku yang sekarang lebih lemah dan menjadi beban untuk Ardi.

“”

Ardi tak menjemputku pagi ini, dan aku seperti biasa, menelpon dia dan langsung memarahinya.
“Kamu kenapa sih ga jemput? Kalo gak bisa jemput, bilang dulu dong, sms kek, biar aku bisa bangun lebih pagi biar bisa jalan kaki ke kampusnya” kata ku dengan nada marah yang sama sekali tak di sela oleh Ardi.
Ardi hanya terdiam di telpon dan aku menutup telpon tanpa menunggu ucapannya. Aku terlalu marah. Karena ini bukan Ardi yang ku kenal.

“”
Sudah seminggu semenjak aku marah di telpon Ardi pagi itu, Ardi sama sekali tak pernah menjemputku. Ardi berubah.
Dia tak pernah menampakkan wajahnya di depanku, tak pernah mengirimkan ucapan ‘selamat pagi’ nya di handphone ku. Ardi benar-benar berubah.
Entah aku yang merasa Ardi yang berubah, ataukah aku memang yang berubah. Aku sama sekali tak pernah berfikir, cinta membuat semuanya berubah, yang dulu indah bisa saja lebih indah, ataukah sebaliknya, lebih menyakitkan. Cinta juga kadang membuat orang semakin dewasa, atau bisa saja semakin manja, karena ingin mendapat perhatian lebih. Itu aku, aku semakin manja kepada Ardi, karena aku ingin, Ardi sepenuhnya hanya kepada ku. Egois bukan?

“”
To : Ardi
Kamu dimana? Miss you so

From : Ardi
Aku di kos, kenapa?

Ardi tidak merindukan ku. Ardi begitu dingin, begitu berbeda.

“”
“Aku mau bicara sama kamu, kamu kemana aja? Kamu kenapa akhir-akhir ini?” tanya ku kepada Ardi, setelah sekian lama banyak pertanyaan yang muncul di pikiranku untuk mencari jawabannya.
“Aku gak kenapa-kenapa, justru kamu yang kenapa tiba-tiba kaya gini. Aku baik-baik aja sayang” jawab Ardi singkat diakhiri dengan senyum manisnya.
“Bohong, kamu berbeda akhir-akhir ini, kamu gak pernah cerita-cerita lagi, kamu serasa ngejauh dari aku, kamu yang dulu mana?”
“Kamu yang dulu, mana?”
“Maksudnya?”
“Iya, kamu yang dulu mana? Yang bisa ngebangkitin semangat aku, yang selalu dewasa, ngasih aku ceramah tiap kali aku bosen kuliah, yang bisa bikin suasana ceria, kamu yang dulu mana?”
Aku menangis, paham betul maksud Ardi. Aku tahu, aku sudah berubah, bukan Ardi yang berubah. Aku yang berbeda, bukan Ardi.
“Aku sakit, pas pagi-pagi engga jemput kamu itu, aku engga bilang kamu, soalnya aku ikutin kamu, sakit dan gak mau nyusahin orang, aku kangen kamu juga, tapi aku ikutin kata-kata mu, kangen itu bukan cuman kata-kata, tapi harus di buktiin. Tapi ternyata kamu gak kangen aku kan waktu itu, kamu engga langsung ke kos aku buat nunjukin kalo kamu kangen aku, padahal aku udah bilang aku di kos. Aku berharap banget kamu dateng saat itu.”
Aku semakin menangis, Ardi sudah begitu mengerti aku sejauh ini, sedangkan aku masih terbuai dengan romansa cinta yang tak dewasa.
“Udah jangan nangis, aku tahu, kamu ini terlalu cinta aku, makanya sikapnya kaya gini, pengen diperhatiin terus kan sama aku?” Ardi dengan senyum itu, aah aku akan sangat menyesal jika melewatkan lelaki seperti ini.
“Iya, maafin aku ya, aku gak ngerti harus gimana, setelah jadi pacar kamu, aku bingung harus bersikap kaya gimana”
“Bersikaplah seperti sahabat ku dulu, yang mencintai ku setulus hatimu, aku gak mau cinta ini terlihat sama dengan cinta mereka, yang hanya mencintai dengan hati, tanpa jiwa mereka. Aku mau kamu mencintai ku, dengan hati dan jiwa mu, yang kamu sendiri sudah tau, bagaimana seharusnya kamu bersikap, memahamiku, mengertiku. Aku gak mau persahabatan ini berakhir seperti cinta mereka, aku berharap, apapun yang terjadi, kamu tetap sahabat ku, yang mencintaiku, sahabat dalam hidupku, yang menemamiku, sampai nanti”

Minggu, 15 Desember 2013

Your best lover is your bestfriend

Cinta, kamu pasti tahu apa itu cinta. Kamu pasti tahu bagaimana mencintai, bagaimana dicintai.
Tapi aku, aku hanya tahu mencintai, aku tak pernah tahu bagaimana rasanya dicintai, oleh seseorang yang begitu kita cintai. Aku hanya mencintai, sendiri, dalam senyum, tawa, tangis, aku mencintaimu.
"Hey, kenapa melamun? Aku mau pulang nih, mau aku anter apa jalan kaki?".
Iya, dia lelaki yang aku cintai, namanya Ardi, yang aku cintai sejak pertama kali kita memutuskan untuk bersahabat, sejak pertama kali kita merasakan bangku kuliah.
"Iyalah, kamu harus anter aku pulang, udah ngerjain tugas kamu, masa kamu gak mau berterima kasih?" ucapku, yang harus ku tunjukkan, bahwa aku masih sahabatnya, yang selalu membantu dia dan aku mencintainya. Ini sudah tahun ke-2 kita bersahabat, sudah tahun ke-2 pula aku mencintai, tanpa ia sadari. Ardi adalah lelaki yang mempunyai jiwa semangat yang tinggi, dia selalu menyemangati ku ketika aku merasa sendiri, tak terlalu paham dengan materi kuliah, bahkan ketika aku merasa, aku lelah mencintai dia, dia menyemangatiku tanpa dia ketahui, aku lelah berpura-pura dalam persahabatan ini.

~~

"Ardiiiiiiiiiii, kamu ngapain aja sih jemputnya lama? Aku udah laper nih". Kataku, dengan manyun, seolah-olah Ardi adalah kekasihku, dan ku tunjukkan sikap manjaku karna aku lelah menunggu, bukan karna aku lapar, karna aku sudah merindukan sosoknya yang seminggu ini dia sibuk dengan kegiatan kampus.
"Sorry, tadi aku habis anter orang dulu, nanti deh aku ceritain, yuk naik!"
deg.. aku tahu, aku paham betul maksud Ardi, aku tahu yang dimaksud adalah perempuan. Ardi sudah seminggu tak bercerita kehidupannya, Ardi sibuk kegiatan kampus yang biasanya dia selalu merasa kelelahan karna tak pernah bisa tidur nyenyak karna kegiatan kampus ini menuntutnya untuk bangun pagi. Entah kenapa, kegiatan kali ini, dia begitu bersemangat.
"Nah, aku mau cerita ke kamu nih, aku lagi deket sama cewek, baru kenal pas kemarin itu sih, namanya Lani, pokoknya kamu harus ketemu sama dia"
"Iyakah? wah senengnya yang bentar lagi gak jomblo, setelah sekian tahun jomblo ya, hihihi"
Reaksi ku, yang seharusnya ku tunjukkan, karna aku sebagai sahabatnya, harus merasa bahagia kalau dia bahagia.

~~

Aku masih mencintai mu dalam diam ku, aku masih mencintaimu dalam suka mu, karna aku tahu, kamu mencintaiku, dalam persahabatanmu.

Ardi memang begitu dekat dengan Lani, tapi aku tak pernah tahu, bagaimana perasaan Ardi sebenarnya terhadap Lani, karna semenjak Ardi menceritakan tentang Lani kepada ku, dia tak pernah lagi menyebut nama Lani didepanku. Aku pun masih belum dikenalkan langsung oleh Ardi kepada Lani.
Ardi memang tak berubah, masih mengantarku pulang, masih menemani ku makan, mengerjakan tugas, menyemangatiku ketika aku lelah kuliah. Ardi masih seperti biasanya. 

Semakin dekat dengan Lani, semakin sering Ardi berdua dengan Lani, Ardi tetap tak berubah.

Jika aku bisa membaca pikiran orang, pikiran Ardi lah yang ingin aku baca. Entah mengapa, dia belum juga meresmikan hubungan mereka.

~~

Ini tepat hari ulang tahun ku. Aku bersikap biasa saja, karna sama seperti tahun kemarin, tak akan ada hal yang menyenangkan. 

To: Ardi
"kamu dimana? engga jemput aku?

Aku berjalan sendirian menuju kampus, yang memang tidak terlalu jauh. Aku berfikir, aku harus sedikit menghindar dari Ardi, agar dia bisa bebas dengan cintanya, Lani, yang setiap aku lihat, dia begitu bahagia semenjak kenal dengan Lani. Aku? Hanya bisa memberi kebahagiaan dia ketika tugas kuliahnya aku yang mengerjakan, itu saja. 
Aku terlihat bodoh, saat aku mencintai seseorang tapi tak ada hal yang dapat aku lakukan, aku hanya diam, menunggu sesuatu yang tak pernah terjadi, jika aku tak pernah memberitahukan perasaanku.

Aku memang mencintai Ardi, tapi aku tak bisa mengungkapkan perasaan ini, aku takut kalau aku salah mengartikan kebaikan Ardi yang tentunya hanya untuk sahabat. Aku tak pernah ingin sakit hati karna cinta ini berbeda arah. Aku lebih baik mencintaimu, dalam diam.

~~
 Ada kotak biru di atas bangku ku.
'Your best lover is your BestFriend'
Ardi

Secarik kertas, yang aku tak paham apa maksudnya, tiba-tiba membuatku ingin menangis.
"Selamat Ulang Tahun, kamu, sahabat terbaik dalam hidup yang selalu memberi keindahan, my bestfriend, will you be my girlfriend?" kata Ardi dengan memberiku sebuket bunga mawar merah.

Aku terdiam, menangis, dan mengangguk sekali, kemudian memeluknya.

~~

"Kamu, kalo cinta aku bilang dong, jangan cuman diem aja. Emangnya enak cinta terus gak diungkapin?"
"Hey, aku kan cuman gak mau ganggu kamu sama Lani"

"Aku sama Lani emang deket, tapi deg-deg an ini loh, cuman ada saat aku sama kamu. Ternyata aku sama Lani engga bisa sedeket sama kamu, kaya gini nih" Ardi dengan mencubit pipiku.




Senin, 15 April 2013

Kita (gak) Harus Putus !!



“Aku masih ada urusan, kamu makan sendiri aja ya.” Kata pria itu dihandphone ku. Dia memang lebih mementingkan waktu dengan sahabat-sahabatnya daripada denganku. Entahlah, aku tak tau alasan yang sebenarnya. “Iya, gak apa-apa. Kamu sampe jam berapa nanti? Jangan pulang malem-malem ya, aku abis ini langsung pulang ke kos.” Kata ku dengan lemah dan tak pernah ingin memaksa dia untuk menemani ku makan, atau mengantarku pulang. “Iya sayang, gak sampe malem kok. Nanti kalo udah di kos, aku sms lagi. Bye dear.” Dia menutup telpon. Seperti biasa. Tak terlihat kita punya masalah bukan? Iya, kita hanya tak pernah bertengkar dalam dunia nyata, tapi dalam keadaan hati dan perasaan, kita selalu bertengkar. Karena apa? Karena kadang sifat egoku yang mulai muncul tetapi tak pernah dia anggap serius. Aku ini tak pernah suka makan sendirian, aku ini takut keramaian. Tapi dia tak pernah mengerti. Aku bisa apa?
Handphone ku berbunyi, nada sms dari kekasihku. Dia menepati janjinya untuk memberitahu kalau sudah pulang. Tidak jarang dia lupa untuk mengirimi ku pesan singkat sebelum aku tidur bahkan ucapan selamat pagi darinya. Iya, dia belum pulang saat aku tidur dan dia belum bangun saat aku sudah bangun. Begitulah setiap hari hubungan ini. Tak pernah ada kemajuan pesat semenjak kita berdua memutuskan untuk bersama.

From : Sayang
“Sayang, aku udh pulang nih. Have a nice dream ya”

Gak perlu membutuhkan waktu yang banyak untuk membalas pesannya. Aku selalu antusias dengan pesan singkat yang selalu dia kirimkan.

To : Sayang
“Iya, Istirahat gih.. Luv ya”

Sudah, dia bukan SMS person. Sekali sms jarang sekali ada balesan lain. Itulah kenapa aku selalu antusias dengan pesan singkatnya.
                                                                        “”
Setiap waktu memang begini, aku tak pernah bisa memberikan, yah istilahnya yang terbaik.
Aku juga merasa gak pernah mengerti, apa seharusnya tugasku sebagai kekasihnya.
Menemani dia ke kampus? Dia sudah memiliki sahabat-sahabat yang sangat baik. Mengingatkan makan? Dia bukan orang yang pelupa dalam hal makan. Dia akan selalu makan saat dia merasa lapar. Dia bukan pemalas. Membantu mengerjakan tugas? Dia anak yang pintar, dia selalu mendapatkan IP >3,00 . Kadang mencintai dan menjadi kekasihnya adalah salah satu hal yang sangat patut disyukuri, karena dia adalah lelaki yang baik, dalam pandanganku. Untuk bisa menjadi kekasihnya pun tak mudah, karena banyak sekali perbedaan antara kita. Tapi entahlah, dia memilihku untuk menjadi kekasihnya.

To : Sayang
“Good morning, sunshine. Hopefully that you always love me”

Tugasku setiap pagi, mengirimkan dia pesan singkat agar dia selalu tau aku disini mencintainya walau aku tak tau, seberapa pentingnya aku dimata dia saat dia membuka matanya.
                                                                        “”
Ini tanggal 1, ini adalah bulan ke 6 aku resmi menjadi kekasihnya. Ini adalah bulan yang seharusnya bahagia daripada bulan yang lalu. Di bulan ini, aku harus bisa menunjukkan bahwa ini aku, kekasihmu. Tapi, apa yang harus aku lakukan? Dia terlalu sempurna tanpaku, dia sudah mandiri tanpaku.

From : Sayang
“Happy 6 monthversary dear, keep this love ya J
To : Sayang
“Happy 6 mothversary too dear, be a good boy ya J

Dia memang tak pernah lupa tanggal 1. Tapi aku tak yakin, apakah dia juga tak pernah lupa denganku.
                                                                        “”
“Sayang, anterin aku pulang ya.” Pinta ku sore itu. Aku lupa rasanya dijemput olehmu, aku lupa rasanya duduk dibelakang punggungmu, aku lupa rasanya memeluk punggung itu. Karena kamu terlalu sering sibuk dengan urusanmu yang menjadikan kamu lelaki yang sempurna ‘dimata orang banyak’. “Iya, tunggu didepan, aku ambil motor dulu.”
Aku tak ingin langsung pulang, aku ingin lebih lama menikmati punggung itu. Aku masih ingin memeluk punggung itu. “Sayang, cari tempat ya buat ngobrol. Aku pengen ngomong banyak sama kamu.” Dia langsung membelokkan motor itu ke cafe yang dulu sering kita kunjungi. Cafe yang dulu aku pertama kali memanggilnya ‘sayang’ .
“Mau ngomong apa sayang? Serius banget, tumben.” Ucap dia dengan senyum nya yang menunjang dugaan bahwa dia memang lelaki sempurna.
“Enggak, cuman kangen aja. Udah lama kita gak ngobrol gini gara-gara urusan kamu dan teman-temanmu. Kamu lupa ya punya aku?” Aku menunduk saat mengatakan itu. Tak berani melihat sorot matanya yang teduh. “Ya enggak lah, mana mungkin aku lupa. Kamu itu satu-satunya sayang.” Rayu dia dengan memegang tanganku. Aah, aku semakin tak kuasa, aku ingin menangis. “Kamu bahagia pacaran sama aku?” tanya ku takut. Aku gak siap dengar jawabannya.
 “Hei, kenapa kamu tanya seperti itu? Jelas bahagia sayang, sangat.”
“Kamu bahagia karena apa? Aku sama sekali belum merasa pernah membahagiakanmu. Aku sangat terlihat kurang buatmu. Kamu itu sudah sempurna, ada atau gak ada aku, kamu akan tetap sempurna.” Aku menangis. Aku sedih, memang seperti itu kenyataannya. Dia sudah sempurna.
“Aku belum sempurna sayang, manusia gak ada yang sempurna, kamu itu pelengkap hidupku. Jangan ngomong aneh-aneh.”
“Kamu akan bisa tanpaku.....”
“Maksud kamu? Enggak sayang, aku gak bisa tanpamu...”
“Tapi, aku gak pernah buat kamu bahagia, buat apa hubungan seperti ini diteruskan? Aku merasa, aku gak berguna jadi kekasihmu....”
“Kita gak boleh putus sayang, aku butuh kamu. Kita harus tetep sama-sama. Kalau kamu mau bahagia, kalau kamu mau buat aku bahagia, kita gak harus putus. Kita harus tetep sama-sama. Kita bahagia sama-sama nanti. Kamu itu berguna sayang, kamu itu penyemangat pagiku. Percayalah, kalau hanya masalah bahagia, kita pasti akan bahagia nantinya.” Ucap dia dengan setengah memeluk ku.
Dia memang sempurna. Dan sekarang aku merasa bahagia. Karena aku memiliki seorang yang sempurna.