“Aku masih ada
urusan, kamu makan sendiri aja ya.” Kata pria itu dihandphone ku. Dia memang
lebih mementingkan waktu dengan sahabat-sahabatnya daripada denganku. Entahlah,
aku tak tau alasan yang sebenarnya. “Iya, gak apa-apa. Kamu sampe jam berapa
nanti? Jangan pulang malem-malem ya, aku abis ini langsung pulang ke kos.” Kata
ku dengan lemah dan tak pernah ingin memaksa dia untuk menemani ku makan, atau
mengantarku pulang. “Iya sayang, gak sampe malem kok. Nanti kalo udah di kos,
aku sms lagi. Bye dear.” Dia menutup telpon. Seperti biasa. Tak terlihat kita
punya masalah bukan? Iya, kita hanya tak pernah bertengkar dalam dunia nyata,
tapi dalam keadaan hati dan perasaan, kita selalu bertengkar. Karena apa?
Karena kadang sifat egoku yang mulai muncul tetapi tak pernah dia anggap
serius. Aku ini tak pernah suka makan sendirian, aku ini takut keramaian. Tapi
dia tak pernah mengerti. Aku bisa apa?
Handphone ku
berbunyi, nada sms dari kekasihku. Dia menepati janjinya untuk memberitahu kalau
sudah pulang. Tidak jarang dia lupa untuk mengirimi ku pesan singkat sebelum
aku tidur bahkan ucapan selamat pagi darinya. Iya, dia belum pulang saat aku
tidur dan dia belum bangun saat aku sudah bangun. Begitulah setiap hari
hubungan ini. Tak pernah ada kemajuan pesat semenjak kita berdua memutuskan
untuk bersama.
From : Sayang
“Sayang, aku udh pulang nih. Have a
nice dream ya”
Gak perlu
membutuhkan waktu yang banyak untuk membalas pesannya. Aku selalu antusias
dengan pesan singkat yang selalu dia kirimkan.
To : Sayang
“Iya, Istirahat gih.. Luv ya”
Sudah, dia bukan
SMS person. Sekali sms jarang sekali ada balesan lain. Itulah kenapa aku selalu
antusias dengan pesan singkatnya.
“”
Setiap waktu
memang begini, aku tak pernah bisa memberikan, yah istilahnya yang terbaik.
Aku juga merasa gak pernah mengerti, apa seharusnya tugasku sebagai kekasihnya.
Menemani dia ke kampus? Dia sudah memiliki sahabat-sahabat yang sangat baik. Mengingatkan makan? Dia bukan orang yang pelupa dalam hal makan. Dia akan selalu makan saat dia merasa lapar. Dia bukan pemalas. Membantu mengerjakan tugas? Dia anak yang pintar, dia selalu mendapatkan IP >3,00 . Kadang mencintai dan menjadi kekasihnya adalah salah satu hal yang sangat patut disyukuri, karena dia adalah lelaki yang baik, dalam pandanganku. Untuk bisa menjadi kekasihnya pun tak mudah, karena banyak sekali perbedaan antara kita. Tapi entahlah, dia memilihku untuk menjadi kekasihnya.
Aku juga merasa gak pernah mengerti, apa seharusnya tugasku sebagai kekasihnya.
Menemani dia ke kampus? Dia sudah memiliki sahabat-sahabat yang sangat baik. Mengingatkan makan? Dia bukan orang yang pelupa dalam hal makan. Dia akan selalu makan saat dia merasa lapar. Dia bukan pemalas. Membantu mengerjakan tugas? Dia anak yang pintar, dia selalu mendapatkan IP >3,00 . Kadang mencintai dan menjadi kekasihnya adalah salah satu hal yang sangat patut disyukuri, karena dia adalah lelaki yang baik, dalam pandanganku. Untuk bisa menjadi kekasihnya pun tak mudah, karena banyak sekali perbedaan antara kita. Tapi entahlah, dia memilihku untuk menjadi kekasihnya.
To : Sayang
“Good morning, sunshine. Hopefully
that you always love me”
Tugasku setiap
pagi, mengirimkan dia pesan singkat agar dia selalu tau aku disini mencintainya
walau aku tak tau, seberapa pentingnya aku dimata dia saat dia membuka matanya.
“”
Ini tanggal 1,
ini adalah bulan ke 6 aku resmi menjadi kekasihnya. Ini adalah bulan yang
seharusnya bahagia daripada bulan yang lalu. Di bulan ini, aku harus bisa
menunjukkan bahwa ini aku, kekasihmu. Tapi, apa yang harus aku lakukan? Dia
terlalu sempurna tanpaku, dia sudah mandiri tanpaku.
From : Sayang
“Happy 6 monthversary dear, keep this
love ya J”
To : Sayang
“Happy 6 mothversary too dear, be a
good boy ya J”
Dia memang tak
pernah lupa tanggal 1. Tapi aku tak yakin, apakah dia juga tak pernah lupa
denganku.
“”
“Sayang, anterin
aku pulang ya.” Pinta ku sore itu. Aku lupa rasanya dijemput olehmu, aku lupa
rasanya duduk dibelakang punggungmu, aku lupa rasanya memeluk punggung itu.
Karena kamu terlalu sering sibuk dengan urusanmu yang menjadikan kamu lelaki
yang sempurna ‘dimata orang banyak’. “Iya, tunggu didepan, aku ambil motor
dulu.”
Aku tak ingin
langsung pulang, aku ingin lebih lama menikmati punggung itu. Aku masih ingin
memeluk punggung itu. “Sayang, cari tempat ya buat ngobrol. Aku pengen ngomong
banyak sama kamu.” Dia langsung membelokkan motor itu ke cafe yang dulu sering
kita kunjungi. Cafe yang dulu aku pertama kali memanggilnya ‘sayang’ .
“Mau ngomong apa
sayang? Serius banget, tumben.” Ucap dia dengan senyum nya yang menunjang
dugaan bahwa dia memang lelaki sempurna.
“Enggak, cuman kangen aja. Udah lama kita gak ngobrol gini gara-gara urusan kamu dan teman-temanmu. Kamu lupa ya punya aku?” Aku menunduk saat mengatakan itu. Tak berani melihat sorot matanya yang teduh. “Ya enggak lah, mana mungkin aku lupa. Kamu itu satu-satunya sayang.” Rayu dia dengan memegang tanganku. Aah, aku semakin tak kuasa, aku ingin menangis. “Kamu bahagia pacaran sama aku?” tanya ku takut. Aku gak siap dengar jawabannya.
“Enggak, cuman kangen aja. Udah lama kita gak ngobrol gini gara-gara urusan kamu dan teman-temanmu. Kamu lupa ya punya aku?” Aku menunduk saat mengatakan itu. Tak berani melihat sorot matanya yang teduh. “Ya enggak lah, mana mungkin aku lupa. Kamu itu satu-satunya sayang.” Rayu dia dengan memegang tanganku. Aah, aku semakin tak kuasa, aku ingin menangis. “Kamu bahagia pacaran sama aku?” tanya ku takut. Aku gak siap dengar jawabannya.
“Hei, kenapa kamu tanya seperti itu? Jelas
bahagia sayang, sangat.”
“Kamu bahagia
karena apa? Aku sama sekali belum merasa pernah membahagiakanmu. Aku sangat
terlihat kurang buatmu. Kamu itu sudah sempurna, ada atau gak ada aku, kamu
akan tetap sempurna.” Aku menangis. Aku sedih, memang seperti itu kenyataannya.
Dia sudah sempurna.
“Aku belum
sempurna sayang, manusia gak ada yang sempurna, kamu itu pelengkap hidupku.
Jangan ngomong aneh-aneh.”
“Kamu akan bisa
tanpaku.....”
“Maksud kamu?
Enggak sayang, aku gak bisa tanpamu...”
“Tapi, aku gak
pernah buat kamu bahagia, buat apa hubungan seperti ini diteruskan? Aku merasa,
aku gak berguna jadi kekasihmu....”
“Kita gak boleh
putus sayang, aku butuh kamu. Kita harus tetep sama-sama. Kalau kamu mau
bahagia, kalau kamu mau buat aku bahagia, kita gak harus putus. Kita harus
tetep sama-sama. Kita bahagia sama-sama nanti. Kamu itu berguna sayang, kamu
itu penyemangat pagiku. Percayalah, kalau hanya masalah bahagia, kita pasti
akan bahagia nantinya.” Ucap dia dengan setengah memeluk ku.
Dia memang
sempurna. Dan sekarang aku merasa bahagia. Karena aku memiliki seorang yang
sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar