Labels

Senin, 15 April 2013

Kita (gak) Harus Putus !!



“Aku masih ada urusan, kamu makan sendiri aja ya.” Kata pria itu dihandphone ku. Dia memang lebih mementingkan waktu dengan sahabat-sahabatnya daripada denganku. Entahlah, aku tak tau alasan yang sebenarnya. “Iya, gak apa-apa. Kamu sampe jam berapa nanti? Jangan pulang malem-malem ya, aku abis ini langsung pulang ke kos.” Kata ku dengan lemah dan tak pernah ingin memaksa dia untuk menemani ku makan, atau mengantarku pulang. “Iya sayang, gak sampe malem kok. Nanti kalo udah di kos, aku sms lagi. Bye dear.” Dia menutup telpon. Seperti biasa. Tak terlihat kita punya masalah bukan? Iya, kita hanya tak pernah bertengkar dalam dunia nyata, tapi dalam keadaan hati dan perasaan, kita selalu bertengkar. Karena apa? Karena kadang sifat egoku yang mulai muncul tetapi tak pernah dia anggap serius. Aku ini tak pernah suka makan sendirian, aku ini takut keramaian. Tapi dia tak pernah mengerti. Aku bisa apa?
Handphone ku berbunyi, nada sms dari kekasihku. Dia menepati janjinya untuk memberitahu kalau sudah pulang. Tidak jarang dia lupa untuk mengirimi ku pesan singkat sebelum aku tidur bahkan ucapan selamat pagi darinya. Iya, dia belum pulang saat aku tidur dan dia belum bangun saat aku sudah bangun. Begitulah setiap hari hubungan ini. Tak pernah ada kemajuan pesat semenjak kita berdua memutuskan untuk bersama.

From : Sayang
“Sayang, aku udh pulang nih. Have a nice dream ya”

Gak perlu membutuhkan waktu yang banyak untuk membalas pesannya. Aku selalu antusias dengan pesan singkat yang selalu dia kirimkan.

To : Sayang
“Iya, Istirahat gih.. Luv ya”

Sudah, dia bukan SMS person. Sekali sms jarang sekali ada balesan lain. Itulah kenapa aku selalu antusias dengan pesan singkatnya.
                                                                        “”
Setiap waktu memang begini, aku tak pernah bisa memberikan, yah istilahnya yang terbaik.
Aku juga merasa gak pernah mengerti, apa seharusnya tugasku sebagai kekasihnya.
Menemani dia ke kampus? Dia sudah memiliki sahabat-sahabat yang sangat baik. Mengingatkan makan? Dia bukan orang yang pelupa dalam hal makan. Dia akan selalu makan saat dia merasa lapar. Dia bukan pemalas. Membantu mengerjakan tugas? Dia anak yang pintar, dia selalu mendapatkan IP >3,00 . Kadang mencintai dan menjadi kekasihnya adalah salah satu hal yang sangat patut disyukuri, karena dia adalah lelaki yang baik, dalam pandanganku. Untuk bisa menjadi kekasihnya pun tak mudah, karena banyak sekali perbedaan antara kita. Tapi entahlah, dia memilihku untuk menjadi kekasihnya.

To : Sayang
“Good morning, sunshine. Hopefully that you always love me”

Tugasku setiap pagi, mengirimkan dia pesan singkat agar dia selalu tau aku disini mencintainya walau aku tak tau, seberapa pentingnya aku dimata dia saat dia membuka matanya.
                                                                        “”
Ini tanggal 1, ini adalah bulan ke 6 aku resmi menjadi kekasihnya. Ini adalah bulan yang seharusnya bahagia daripada bulan yang lalu. Di bulan ini, aku harus bisa menunjukkan bahwa ini aku, kekasihmu. Tapi, apa yang harus aku lakukan? Dia terlalu sempurna tanpaku, dia sudah mandiri tanpaku.

From : Sayang
“Happy 6 monthversary dear, keep this love ya J
To : Sayang
“Happy 6 mothversary too dear, be a good boy ya J

Dia memang tak pernah lupa tanggal 1. Tapi aku tak yakin, apakah dia juga tak pernah lupa denganku.
                                                                        “”
“Sayang, anterin aku pulang ya.” Pinta ku sore itu. Aku lupa rasanya dijemput olehmu, aku lupa rasanya duduk dibelakang punggungmu, aku lupa rasanya memeluk punggung itu. Karena kamu terlalu sering sibuk dengan urusanmu yang menjadikan kamu lelaki yang sempurna ‘dimata orang banyak’. “Iya, tunggu didepan, aku ambil motor dulu.”
Aku tak ingin langsung pulang, aku ingin lebih lama menikmati punggung itu. Aku masih ingin memeluk punggung itu. “Sayang, cari tempat ya buat ngobrol. Aku pengen ngomong banyak sama kamu.” Dia langsung membelokkan motor itu ke cafe yang dulu sering kita kunjungi. Cafe yang dulu aku pertama kali memanggilnya ‘sayang’ .
“Mau ngomong apa sayang? Serius banget, tumben.” Ucap dia dengan senyum nya yang menunjang dugaan bahwa dia memang lelaki sempurna.
“Enggak, cuman kangen aja. Udah lama kita gak ngobrol gini gara-gara urusan kamu dan teman-temanmu. Kamu lupa ya punya aku?” Aku menunduk saat mengatakan itu. Tak berani melihat sorot matanya yang teduh. “Ya enggak lah, mana mungkin aku lupa. Kamu itu satu-satunya sayang.” Rayu dia dengan memegang tanganku. Aah, aku semakin tak kuasa, aku ingin menangis. “Kamu bahagia pacaran sama aku?” tanya ku takut. Aku gak siap dengar jawabannya.
 “Hei, kenapa kamu tanya seperti itu? Jelas bahagia sayang, sangat.”
“Kamu bahagia karena apa? Aku sama sekali belum merasa pernah membahagiakanmu. Aku sangat terlihat kurang buatmu. Kamu itu sudah sempurna, ada atau gak ada aku, kamu akan tetap sempurna.” Aku menangis. Aku sedih, memang seperti itu kenyataannya. Dia sudah sempurna.
“Aku belum sempurna sayang, manusia gak ada yang sempurna, kamu itu pelengkap hidupku. Jangan ngomong aneh-aneh.”
“Kamu akan bisa tanpaku.....”
“Maksud kamu? Enggak sayang, aku gak bisa tanpamu...”
“Tapi, aku gak pernah buat kamu bahagia, buat apa hubungan seperti ini diteruskan? Aku merasa, aku gak berguna jadi kekasihmu....”
“Kita gak boleh putus sayang, aku butuh kamu. Kita harus tetep sama-sama. Kalau kamu mau bahagia, kalau kamu mau buat aku bahagia, kita gak harus putus. Kita harus tetep sama-sama. Kita bahagia sama-sama nanti. Kamu itu berguna sayang, kamu itu penyemangat pagiku. Percayalah, kalau hanya masalah bahagia, kita pasti akan bahagia nantinya.” Ucap dia dengan setengah memeluk ku.
Dia memang sempurna. Dan sekarang aku merasa bahagia. Karena aku memiliki seorang yang sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar