Labels

Tampilkan postingan dengan label Move On. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Move On. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 April 2014

another name of 'Move On'

Hidup ini seperti sebuah pertandingan, kamu gak akan pernah tau siapa yang menunggu kamu di garis finish kalo kamu gak pernah mampu buat ngelewatin pertandingan ini.
Yah, intinya sama, kamu gak bakal tau siapa yang disana akan jadi pendamping kamu kalo kamu gak pernah ngejalanin masa masa sulit kamu buat move on.

untuk membuat segalanya terasa mudah, aku mencoba menjalani hari ini, kemarin, esok dengan memikirkan, apa yang sebaiknya untuk diriku di masa depan. bukankah mencintai saja bukan berarti hidup akan lebih indah di masa depan?

aku sudah bisa melewati masa -move on- dari kegagalan cinta ku yang terakhir. setiap hidup memiliki kegagalan dan cara penyelesaian yang berbeda. aku sudah bisa menyelesaikan masalahku sendiri.
hingga pada akhirnya, aku terlalu senang dengan kata -move on- dan aku lupa cara untuk membuka diri lagi untuk yang lain.

move on bukan berarti kita sudah menemukan seorang pengganti yang baru, bagiku move on adalah cara untuk meyembuhkan masalah dalam kegagalan cinta.

aku menyadari bahwa aku sudah bisa move on adalah disaat aku sudah bisa menghapus semua conversation yang tersimpan, foto, dan segala kata-kata manis darinya yang aku tulis di notes handphone.

menghapus kenangan itu sebenarnya bukan karena sulit, tapi karena kita takut kita tidak bisa mengingat akan masalalu. tapi itulah cara ku untuk bisa move on.
karena mengingat masa lalu bukanlah hal yang indah atau hal yang menyakitkan, tapi bagiku dia hanya sebagai memori karena kita pernah melakukan hal itu.

menghapus kenangan bukan berarti membuka lembaran kenangan yang baru, hanya saja kita ingin menyimpan kenangan lama itu di tempat yang berbeda.

untuk bisa menjalani ini semua, tentu air mata menjadi salah satu teman yang tak asing, sampai sekarang pun, beban dimasa lalu ku terasa begitu berat di bahuku, sampai sekarang seluruh kenangan itu masih membuat dada terasa sakit dan membuat air mata ini mengalir.
tapi di saat itu aku mengerti, semua kenangan itu tak pernah bisa aku lupakan.
seberapa berat kita mencoba mengabaikan, maka akan semakin banyak kenangan yang muncul.

jika pada akhirnya move on dengan segala cara tidak lah berhasil, cobalah untuk move back.
jika kamu merasa move on sungguhlah berat, try to move back, mungkin kegagalan yang kamu lakuin, kesalahan itu bisa lagi diperbaiki, kesalahan dalam hubungan yang sama mungkin akan muncul, tetapi pasti mereka memiliki cara penyelesaian yang berbeda.

Jumat, 03 Januari 2014

gak ngerti kudu dikasih judul apa~~

Cinta dan waktu akan saling berkaitan, lamanya waktu mungkin akan mempengaruhi cinta. Dan aku harap cintaku ini akan selalu tumbuh seiring berjalannya waktu, hubungan ku dengan lelaki yang ku cintai, yang sudah mendampingiku selama 4 tahun, yang sudah berbagi segala kisah hidupnya dengan ku, lelaki yang amat ku cintai setelah Ayah ku, lelaki yang sampai saat ini, aku berdo’a dia menjadi jodohku nantinya.
Lelaki ini bukanlah type yang sama dengan lelaki lain di luar sana, dia tak pernah menuntut ku untuk ini itu, karena, menurut dia, suatu hubungan bukanlah karena tuntutan, batasan, kekangan, tapi kita harus saling tahu diri. Aku tahu diri, aku siapa, jadi aku tahu batasan ku ketika aku di luar, aku tahu diri aku memberi kepercayaan penuh kepada dia, karena aku tahu, aku sudah memegang komitmen untuk saling bersama. Kepercayaan, kejujuran, setia, lelaki ini tak pernah memaksa ku untuk melakukan hal ini, karena pada dasarnya aku sudah tahu, ini lah sesuatu yang harus dijalani oleh dua orang yang sudah berkomitmen untuk bersama.

“”
To : Dearest
Bagaimana pagi mu hari ini? Aku harap masih mencintai ku
From : Dearest
Aku masih mencintai mu dan akan tetap selalu mencintai mu

Kita bukan lagi remaja yang di mabuk cinta dengan komunikasi yang terlalu sering, aku menyapanya setiap pagi, dan terkadang, sapaan pagi akan menjadi sapaan terakhir di hari ini. Lelaki ini sudah mencintai ku, bagi ku adalah cukup, saling mencintai adalah sesuatu yang penting dalam setiap hubungan.
Tapi, bukan berarti tak mencintai, kita bisa saja berhenti untuk bersama, karena akan selalu ada aku yang mencintai mu, tanpa perlu kamu mencintai ku, aku masih ingin tetap kita bersama.

“”
“sudah lama kita gak pergi bareng, aku kangen suasana malem seperti ini” di tengah keramaian cafe ini, aku mencoba untuk tetap menunjukkan seberapa pentingnya arti hadirnya untuk setiap malam ku.
“iya, aku juga kangen, tapi aku mau ngomong sesuatu sama kamu”
“apa? Apa ada yang serius?”
“kamu tau, kita sudah lama seperti ini, bersama, setiap waktu.......”
“engga, kita udah jarang ketemu.....”
“iya, maksud ku, kita udah lama bersama.... dan sepertinya aku masih harus mikir lagi, harus menjalani hubungan ini atau engga....”
..............
“maafin aku...”
Aku gak ngerti harus gimana lagi kecuali menangis, menangis, menangis.... memohon untuk dia tetap tinggal, tapi tetap bibir terlalu kelu untuk mengeluarkan kata-kata memohon.... aku sama sekali nggak ngerti, bukankah cinta saja sudah cukup untuk membuat orang tetap tinggal di samping kita?
“kamu selingkuh?” tanya ku dengan segala kekuatan ku
“enggak, aku enggak pernah selingkuh sekalipun itu, aku cuman masih harus mikir bagaimana kelanjutan hubungan ini, bukan berarti aku udah gak sayang kamu... justru aku sayang banget sama kamu”
“bohong, kalo kamu sayang, kenapa harus kaya gini, bukankah cinta aja udah cukup untuk tau bagaimana kelanjutan hubungan ini?”

Aku meninggalkannya sendiri disana, dan aku masih belum paham, bagaimana bisa dua orang manusia yang sudah bersama-sama begitu lamanya mencintai, berbagi kasih sayang, tiba-tiba berjalan sendiri-sendiri lagi. Cinta yang sudah begitu menyenangkan tiba-tiba harus ada kenangan yang menyedihkan. Cinta yang sudah begitu eratnya, dengan mudah terpisah dengan tiba-tiba. Sebenarnya itu apa? Haruskah ada hal yang begitu menyedihkan dalam cinta? Haruskah cinta itu di sertai dengan tangisan? Haruskah cinta itu pada akhirnya akan ditinggalkan?

Aku harus mencari tau, ini bukan lah akhir dari cinta, jika ternyata ada airmata yang harus menetes pada setiap cinta.

“”

Aku mendatangi kampus ini lagi, setelah peristiwa yang begitu menyayat sehingga sekecil apapun cahaya harapan untuk kembali bersama, terasa begitu membahagiakan.
Aku berharap mendapat jawaban yang berbeda, ketika lelaki yang sudah ku kenal lama ini melihat ku dengan wajah yang tak ku tunjukan kesedihan. Aku berharap ia dapat menarik ucapan yang sama sekali aku belum bisa lupakan, sehuruf pun apa yang di ucapkannya.

“Selamat pagi, bagaimana hari mu hari ini?” sapa ku dengan ku tahan semua airmata yang ingin menetes tapi masih ku tahan demi lelaki yang paling ku cintai ini.
“Selamat pagi, kamu ngapain kesini? Cepet pulang gih, mendung banget sekarang... aku ada kelas, aku ke kelas dulu ya..” lalu pergi, tanpa kata-kata lain yang sangat ingin ku dengar....Sayang...

Aku masih belum ingin menyerah, untuk memperbaiki apa yang sebenarnya harus di perbaiki, aku masih akan terus memohon, sampai lelaki ini benar-benar menunjukkan bahwa dia udah gak mau lagi dengan ku. Karena aku sangat yakin, bukan cinta jika pada akhirnya harus ada yang terluka.

“”

“Aku mau ngomong sama kamu”
“Maaf, aku ada urusan lain....”
Ini bukan lelaki yang sudah mendampingi ku 4 tahun, ini bukan lelaki yang mencintaiku seperti biasanya.
“Yasudah, aku cuman mau bilang, makasih, makasih kamu udah nunjukin sikap ini, sikap yang bilang, kalau kamu udah gak mau lagi sama aku, okee aku akan berhenti memohon ke kamu, ngejar-ngejar kamu, percuma kalo kamunya sendiri gak mau di kejar. Makasih untuk semua dan maaf. Dan perlu kamu tau, hargailah orang-orang yang mencintaimu, karena ia berkorban, mengemis cinta untuk mu, karena ia hanya ingin menunjukkan seberapa berharganya kamu untuk dia. Makasih, aku cukup tahu diri sekarang”

Aku kuat, aku harus kuat tanpa air mata yang dapat melemah kan ku, aku harus kuat, karena air mata bukanlah cara yang terbaik untuk mengatasi masalah, aku harus kuat, karena aku tau, ini bukanlah cinta yang seperti orang bicarakan.


“”

Lama sudah aku sendiri, berjalan sendiri, tanpa orang yang ku cintai lagi, tanpa orang yang sering ku kasihi, dan aku mengerti, ada kalanya kita harus sendiri, dan ada kalanya kita harus bersama. Mungkin memang ini waktunya aku sendiri. Bukan karena aku yang ingin sendiri, tapi dia, lelaki itu menginginkan aku sendirian.

Jika pada akhirnya dua orang itu harus berjalan sendiri-sendiri dengan tujuan yang berbeda, percuma waktu yang telah mereka jalani bersama jika mereka belum bisa mengubah jalan tujuan mereka menjadi sama.

Jika ternyata tujuan mereka berbeda pada awalnya, kenapa mereka bisa bertemu di persimpangan jalan?

Kalau ada dua orang yang memutuskan untuk berjalan bersama-sama, berarti mereka punya tujuan yang sama, jika di tengah jalan mereka berpisah, itu berarti mereka hanya ingin mencari teman ketika di perjalanan, bukan berjalan untuk mencapai tujuan.

Aku menyakini, orang yang sudah sekian lama berjalan bersama, ketika berhenti di tengah jalan dengan alasan tujuan mereka berbeda, sebenarnya salah satu dari mereka belum memiliki tujuan.

Lelaki yang dulu amat ku cintai memutuskan berjalan dengan ku dengan tujuan yang sama, jika pada akhirnya dia mulai goyah untuk melanjutkan perjalanan ini atau enggak, aku rasa dia masih belum memiliki tujuan. Bagaimana bisa aku berjalan dengan seseorang yang buta arah?

“”

“Dis, aku mau ngomong.. dengerin aku sebentar aja”
Lelaki yang masih begitu hangat di mataku tiba-tiba menghadirkan kembali aroma parfum kesukaan ku.
“apa?”
“Maaf, aku tahu aku udah bikin kesalahan yang amat sangat fatal, aku tahu aku aku udah bikin kamu nangis, kecewa, marah sama aku. Tapi sekarang, mulai saat ini aku janji, aku gak akan bikin kamu kaya gitu lagi.”
“Jadi maksud kamu?”
“Maaf Dis, aku minta maaf banget, tapi sekarang aku tahu harus kemana arah hubungan ini. Aku udah ngerti harus gimana ngadepin hubungan ini...”
..................
“Dis, maafin aku, kamu mau kan ngelanjutin ini lagi?”
Aku masih aja diam, memikirkan kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang seharusnya aku ungkapkan. Mengutarakan apa yang seharusnya ia dengar.
“Iya, aku maafin, tapi........... seharusnya kamu tahu diri, seperti yang biasa kamu bilang, tahu diri siapa kamu sekarang, siapa kamu dulu... kamu bilang kamu udah tahu mau kemana arah hubungan ini, tapi aku juga tahu, arah tujuan ku udah gak sama lagi sama kamu. Bagaimana aku bisa berjalan dengan orang yang baru aku kenal di persimpangan jalan?”
“Maaf Dis, tapi aku sama sekali gak bermaksud seperti itu..”
“Kamu tau kan? Vas bunga yang udah jatuh, pecah, gak bisa lagi kembali utuh. Sama kaya aku, gak bisa lagi utuh kalo aku harus maksain buat jalanin ini lagi... Maaf Ron...”

“”
Cinta, dan aku masih berpendapat, jika cinta, tak mungkin pada akhirnya harus ada yang terluka dan ada air mata. Jika cinta begitu di paksakan untuk tetap bertahan di keadaan terluka dan air mata, aku yakin itu bukanlah cinta. Tetapi kesedihan yang seharusnya kita redam, buang jauh-jauh.


Senin, 15 April 2013

Bahagia = Sedih



Kalo kamu tanya, apa aku pernah bahagia, jelas. Pernah. Dengan siapa? Jelas dengan kekasihku dulu. Tapi itu dulu. Sekarang aku sedih karenanya. Bahagia namun mengapa tak bertahan lama? Iya, karna bahagia itu akan berbanding lurus dengan kesedihan. Dia memberikan ku cinta, hanya sebentar. Tapi disaat itulah, aku merasa aku terlalu bahagia berada disampingnya. Dan setelah dia meninggalkanku, aku baru sadar, setiap ada bahagia, kesedihan akan menanti. Kalau kamu berikir hubunganmu tidak bahagia, kamu salah. Selalu akan ada bahagia disaat kalian dengan pasangan bertengkar. Dan sebaliknya.
Bahagia bukan hanya dari pasangan saja kan?
Selalu berpikir positif lah dengan hidupmu. Nantinya Tuhan akan mengerti, kapan saatnya kamu akan bahagia, dan kapan saatnya kamu akan bersedih. Jangan pernah mengeluh tentang kesedihan yang kamu pikir tidak datang tepat pada waktunya, jelas Tuhan sudah yang Maha Tahu kapan kamu siap untuk bersedih.

Keep smiling and cheers up :) 

Jumat, 22 Maret 2013

Trik Move on ku



Ketika aku melihat sekeliling orang yang “terkadang” pernah tersakiti oleh cinta, aku memikir bagaimana keadaan hatiku sekarang, apakah aku baik-baik saja tanpa cinta yang dulu pernah aku banggakan ataukah aku hanya merasa kesepian karena aku sendirian.
Ternyata tidak, aku baik-baik saja. Aku lebih baik dari sebelumnya. Memang butuh proses yang sangat lama untuk memulihkan “baik-baik” saja itu. Setidaknya aku sekarang bisa tersenyum lebar lagi tanpa harus dengan orang yang dulu ku cintai.

Mungkin, ketika baru saja ditinggalkan, akan terasa sangat sulit untuk memulai hal-hal yang biasanya kita lalui dengan orang yang kita sayang mulai dari bangun hingga terlelap lagi dan sekarang kita bangun tanpa ada ucapan selamat pagi darinya dan akan tidur tanpa ucapan selamat malam darinya. Sangat sulit memang menjalani hal-hal baru itu. Mungkin bagi orang lain, aku terlalu lebay ketika aku belum bisa terlelap hanya karena menunggu ucapan selamat malam. Memang begitu adanya. Anggap saja sebagai orang muslim, ketika hendak makan kita belum berdoa, akan terasa aneh kan kita akan makan? Sama halnya seperti itulah aku. Tapi, malam demi malam, aku bisa menjalani malamku tanpa ucapan selamat malam. Ya, karena aku mengucapkannya dalam hatiku sendiri untuk diriku sendiri. Miris. Tapi itulah kenyataan yang harus aku tempuh. Dan aku mulai terbiasa dengan itu.
Dan ketika aku melihat banyak orang mulai tersakiti karena cinta, aku hanya bisa tersenyum. Iya, Tuhan itu adil. Pasti ia akan menurunkan banyak-banyak orang patah hati untuk menemaniku.
Aku sendiri masih heran, kenapa orang yang kita sayangi, kita cintai begitu jahatnya,begitu teganya melihat kita sakit, menangis.. padahal mereka pernah menjelmakan kita sebagai oang yang mereka sayangi, mereka cintai juga dengan memanggil sebutan “sayang” atau “cinta” kepada kita. Apa mereka tak pernah berfikir bahwa menyakiti orang yang kita sayang akan mendapatkan karma?
Sudahlah, tunggu saja karmamu.
 
Aku memang merasa sakit, ketika kamu pergi, memutuskan untuk berhenti mencintaiku tepatnya. tetapi aku berpositive thinking, kalaupun nanti kamu merasa masih membutuhkanku, kamu akan menyesal meninggalkanku. Tetapi kalaupun kamu tidak menyesal sama sekali pergi dariku, maka aku akan sangat bersyukur karena aku telah dijauhkan dari orang yang tidak benar-benar mencintaiku.