Happy Mothers Day, Ibu-Mama-Umi-Emak-Mbok-and whatever you calling her. a beautiful woman.
Ada berjuta panggilan untuk mu, tapi pada intinya, hanya ditujukan untuk satu orang.
Selamat Hari Ibu! My super mom ever after.
Jarang sekali ngerayain Hari Ibu lagi, semenjak di pondok, dan terakhir kali ngerayain Hari Ibu pas lagi SMP, sama Abahku... Bilang ke Ibuk, gak usah masak, biar aku sama Abah aja yang beli makan. Yang nyapu lalala~
memang sih gak masak, malah ibuku nantangin, katanya mau enak-enakan seharian, kan Hari Ibu...
Aku sama Abah cuman bisa Iya'in aja. Betulan, siang-siang Ibuk cuman baca koran-liat gosip-dan tiduran di kamar. Siang-siang aku sama Abah rencana beli makan di luar. Udah mau berangkat, eh Ibuk bilang, biar Ibuk aja yang masak, masih ada sisa bahan makanan yang kemarin, uang buat beli makannya dikasih Ibuk aja... katanya... masak nya minta di bayar. Kan hari Ibu.... *kemudian hening
Hyaaaaaaaa pada akhirnya tetep aja Ibuk yang masak....
Katanya Ibuku, Hari Ibu, setahun sekali, jadi ngapain di rayain, wong setiap hari juga bakalan kaya gini....
Maksudnya, setiap hari bakalan masak.... dan kalo lagi gak pengen masak, gak mesti harus nunggu hari Ibu kan......
Itulah kenapa aku gak pernah ngerayain Hari Ibu...
Setahun kemarin aku ngerayain Hari Ibu, mau ganti DP BBM gak bisa....... trus kemudian aku sedih, soalnya ngerasa durhakaaaa, gara-gara waktu itu abis gatau nohong karena apa, dan akhirnya aku gak bisa ganti DP seharian fotoku sama Ibuku.
Dan tetap, menurut keyakinan Ibuku, Hari Ibu itu Hari dimana Ibu-Ibu harus jadi Ibu yang sebenernya, bukan malah mogok gak masak, dan enak-enak di rumah.
But, apapun lah itu, Selamat Hari Ibu :))
Sabtu, 21 Desember 2013
(Actually) Your best lover is your bestfriend
Bukankah kita di
takdirkan bersama? Setelah masa-masa sulit kita berjalan dengan pengorbanan
cinta kita? Tidakkah Tuhan memiliki rencana yang indah pada takdir cinta yang
sedemikian lamanya kita bersama.
Aku memang menikmati
cinta ini tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi seandainya dia, lelaki yang
ku cintai, menemukan sosok yang lebih nyaman di bandingkan bersama ku, setelah
3 tahun merasakan bahu ku untuknya bersandar, dan tiba-tiba dia menemukan bahu
yang lebih nyaman untuk bersandar.
Aku dan Ardi tak pernah
menghiraukan perdebatan kecil ini, yang setiap hari, selalu mengusik malam ku,
untuk menyesali, apa yang telah ku perbuat sehingga Ardi merasa tak nyaman
dengan ku. Aku mungkin terlalu manja, menginginkan cinta yang begitu indah yang
tak pernah ku harap ada perdebatan, tapi mustahil, jika ego ku selalu begini,
tak pernah mengerti tentang keadaan Ardi.
Ardi sudah begitu
indah, begitu mengertiku, begitu memahami setiap potongan lego harapan ku, dia
selalu menemukan apa yang aku inginkan. Tapi tidak dengan ku.
Ardi memang berbeda
dengan Ardi, setahun yang lalu, ketika cinta belum membentangi kita berdua, Ardi
yang sekarang lebih baik, tapi aku, aku yang sekarang lebih lemah dan menjadi
beban untuk Ardi.
“”
Ardi tak menjemputku
pagi ini, dan aku seperti biasa, menelpon dia dan langsung memarahinya.
“Kamu kenapa sih ga
jemput? Kalo gak bisa jemput, bilang dulu dong, sms kek, biar aku bisa bangun
lebih pagi biar bisa jalan kaki ke kampusnya” kata ku dengan nada marah yang
sama sekali tak di sela oleh Ardi.
Ardi hanya terdiam di
telpon dan aku menutup telpon tanpa menunggu ucapannya. Aku terlalu marah.
Karena ini bukan Ardi yang ku kenal.
“”
Sudah seminggu semenjak
aku marah di telpon Ardi pagi itu, Ardi sama sekali tak pernah menjemputku.
Ardi berubah.
Dia tak pernah
menampakkan wajahnya di depanku, tak pernah mengirimkan ucapan ‘selamat pagi’
nya di handphone ku. Ardi benar-benar berubah.
Entah aku yang merasa
Ardi yang berubah, ataukah aku memang yang berubah. Aku sama sekali tak pernah
berfikir, cinta membuat semuanya berubah, yang dulu indah bisa saja lebih
indah, ataukah sebaliknya, lebih menyakitkan. Cinta juga kadang membuat orang
semakin dewasa, atau bisa saja semakin manja, karena ingin mendapat perhatian
lebih. Itu aku, aku semakin manja kepada Ardi, karena aku ingin, Ardi
sepenuhnya hanya kepada ku. Egois bukan?
“”
To
: Ardi
Kamu
dimana? Miss you so
From
: Ardi
Aku
di kos, kenapa?
Ardi tidak merindukan
ku. Ardi begitu dingin, begitu berbeda.
“”
“Aku mau bicara sama
kamu, kamu kemana aja? Kamu kenapa akhir-akhir ini?” tanya ku kepada Ardi,
setelah sekian lama banyak pertanyaan yang muncul di pikiranku untuk mencari
jawabannya.
“Aku gak kenapa-kenapa,
justru kamu yang kenapa tiba-tiba kaya gini. Aku baik-baik aja sayang” jawab
Ardi singkat diakhiri dengan senyum manisnya.
“Bohong, kamu berbeda
akhir-akhir ini, kamu gak pernah cerita-cerita lagi, kamu serasa ngejauh dari
aku, kamu yang dulu mana?”
“Kamu yang dulu, mana?”
“Maksudnya?”
“Iya, kamu yang dulu
mana? Yang bisa ngebangkitin semangat aku, yang selalu dewasa, ngasih aku
ceramah tiap kali aku bosen kuliah, yang bisa bikin suasana ceria, kamu yang
dulu mana?”
Aku menangis, paham betul
maksud Ardi. Aku tahu, aku sudah berubah, bukan Ardi yang berubah. Aku yang
berbeda, bukan Ardi.
“Aku sakit, pas
pagi-pagi engga jemput kamu itu, aku engga bilang kamu, soalnya aku ikutin
kamu, sakit dan gak mau nyusahin orang, aku kangen kamu juga, tapi aku ikutin
kata-kata mu, kangen itu bukan cuman kata-kata, tapi harus di buktiin. Tapi ternyata
kamu gak kangen aku kan waktu itu, kamu engga langsung ke kos aku buat nunjukin
kalo kamu kangen aku, padahal aku udah bilang aku di kos. Aku berharap banget
kamu dateng saat itu.”
Aku semakin menangis,
Ardi sudah begitu mengerti aku sejauh ini, sedangkan aku masih terbuai dengan
romansa cinta yang tak dewasa.
“Udah jangan nangis,
aku tahu, kamu ini terlalu cinta aku, makanya sikapnya kaya gini, pengen
diperhatiin terus kan sama aku?” Ardi dengan senyum itu, aah aku akan sangat
menyesal jika melewatkan lelaki seperti ini.
“Iya, maafin aku ya,
aku gak ngerti harus gimana, setelah jadi pacar kamu, aku bingung harus
bersikap kaya gimana”
“Bersikaplah seperti
sahabat ku dulu, yang mencintai ku setulus hatimu, aku gak mau cinta ini
terlihat sama dengan cinta mereka, yang hanya mencintai dengan hati, tanpa jiwa
mereka. Aku mau kamu mencintai ku, dengan hati dan jiwa mu, yang kamu sendiri
sudah tau, bagaimana seharusnya kamu bersikap, memahamiku, mengertiku. Aku gak
mau persahabatan ini berakhir seperti cinta mereka, aku berharap, apapun yang
terjadi, kamu tetap sahabat ku, yang mencintaiku, sahabat dalam hidupku, yang
menemamiku, sampai nanti”
Jumat, 20 Desember 2013
Selasa, 17 Desember 2013
Happy Birthday, MySelf !!
Happy Birthday, Selamat Ulang Tahun.
AKU, yang ke 20 tahun, yang makin dewasa, yang harus makin dewasa, makin giat belajarnya, makin apapun yang terbaik.
20 tahun sudah, baru kali ini ngerayain ulang tahun, tanpa kedua orang tua :((
biasanya apapun yang terjadi, mesti nyempetin buat nengok anaknya ini, tapi kali ini engga.
Mungkin emang aku harus bener-bener dewasa.
I will.. no, I must to...
Nothing's special....
but, I'm happy, because I have you, you all my friend.
Thanks for remember this day, thanks for everything!
Birthday Gift From Zuhristawa L Aljabbar
Thankyou for remember me and this day.
You know me so well, I love this cute box, Yellow :))
Pas lagi mau keluar kos, tiba-tiba ada orang teriak "paket-paket" dan nyebutin nama ku, itu syok banget, ada gitu yang inget aku sampe-sampe paketannya nyampe pas hari H.
Salut, thankyou Ris!
Thankyou cimin-cimin (tanpa Maul dan Redy, ini begitu kurang :( )
Coffee Taste, makan dan sangat kenyang! meskipun bayar sendiri-sendiri :P
thankyou all, I love you all so much :*
AKU, yang ke 20 tahun, yang makin dewasa, yang harus makin dewasa, makin giat belajarnya, makin apapun yang terbaik.
20 tahun sudah, baru kali ini ngerayain ulang tahun, tanpa kedua orang tua :((
biasanya apapun yang terjadi, mesti nyempetin buat nengok anaknya ini, tapi kali ini engga.
Mungkin emang aku harus bener-bener dewasa.
I will.. no, I must to...
Nothing's special....
but, I'm happy, because I have you, you all my friend.
Thanks for remember this day, thanks for everything!
Thankyou for remember me and this day.
You know me so well, I love this cute box, Yellow :))
Pas lagi mau keluar kos, tiba-tiba ada orang teriak "paket-paket" dan nyebutin nama ku, itu syok banget, ada gitu yang inget aku sampe-sampe paketannya nyampe pas hari H.
Salut, thankyou Ris!
Thankyou cimin-cimin (tanpa Maul dan Redy, ini begitu kurang :( )
Coffee Taste, makan dan sangat kenyang! meskipun bayar sendiri-sendiri :P
thankyou all, I love you all so much :*
Minggu, 15 Desember 2013
Your best lover is your bestfriend
Cinta, kamu pasti tahu apa itu cinta. Kamu pasti tahu bagaimana mencintai, bagaimana dicintai.
Tapi aku, aku hanya tahu mencintai, aku tak pernah tahu bagaimana rasanya dicintai, oleh seseorang yang begitu kita cintai. Aku hanya mencintai, sendiri, dalam senyum, tawa, tangis, aku mencintaimu.
"Hey, kenapa melamun? Aku mau pulang nih, mau aku anter apa jalan kaki?".
Iya, dia lelaki yang aku cintai, namanya Ardi, yang aku cintai sejak pertama kali kita memutuskan untuk bersahabat, sejak pertama kali kita merasakan bangku kuliah.
"Iyalah, kamu harus anter aku pulang, udah ngerjain tugas kamu, masa kamu gak mau berterima kasih?" ucapku, yang harus ku tunjukkan, bahwa aku masih sahabatnya, yang selalu membantu dia dan aku mencintainya. Ini sudah tahun ke-2 kita bersahabat, sudah tahun ke-2 pula aku mencintai, tanpa ia sadari. Ardi adalah lelaki yang mempunyai jiwa semangat yang tinggi, dia selalu menyemangati ku ketika aku merasa sendiri, tak terlalu paham dengan materi kuliah, bahkan ketika aku merasa, aku lelah mencintai dia, dia menyemangatiku tanpa dia ketahui, aku lelah berpura-pura dalam persahabatan ini.
Aku memang mencintai Ardi, tapi aku tak bisa mengungkapkan perasaan ini, aku takut kalau aku salah mengartikan kebaikan Ardi yang tentunya hanya untuk sahabat. Aku tak pernah ingin sakit hati karna cinta ini berbeda arah. Aku lebih baik mencintaimu, dalam diam.
Aku terdiam, menangis, dan mengangguk sekali, kemudian memeluknya.
Tapi aku, aku hanya tahu mencintai, aku tak pernah tahu bagaimana rasanya dicintai, oleh seseorang yang begitu kita cintai. Aku hanya mencintai, sendiri, dalam senyum, tawa, tangis, aku mencintaimu.
"Hey, kenapa melamun? Aku mau pulang nih, mau aku anter apa jalan kaki?".
Iya, dia lelaki yang aku cintai, namanya Ardi, yang aku cintai sejak pertama kali kita memutuskan untuk bersahabat, sejak pertama kali kita merasakan bangku kuliah.
"Iyalah, kamu harus anter aku pulang, udah ngerjain tugas kamu, masa kamu gak mau berterima kasih?" ucapku, yang harus ku tunjukkan, bahwa aku masih sahabatnya, yang selalu membantu dia dan aku mencintainya. Ini sudah tahun ke-2 kita bersahabat, sudah tahun ke-2 pula aku mencintai, tanpa ia sadari. Ardi adalah lelaki yang mempunyai jiwa semangat yang tinggi, dia selalu menyemangati ku ketika aku merasa sendiri, tak terlalu paham dengan materi kuliah, bahkan ketika aku merasa, aku lelah mencintai dia, dia menyemangatiku tanpa dia ketahui, aku lelah berpura-pura dalam persahabatan ini.
~~
"Ardiiiiiiiiiii, kamu ngapain aja sih jemputnya lama? Aku udah laper nih". Kataku, dengan manyun, seolah-olah Ardi adalah kekasihku, dan ku tunjukkan sikap manjaku karna aku lelah menunggu, bukan karna aku lapar, karna aku sudah merindukan sosoknya yang seminggu ini dia sibuk dengan kegiatan kampus.
"Sorry, tadi aku habis anter orang dulu, nanti deh aku ceritain, yuk naik!"
deg.. aku tahu, aku paham betul maksud Ardi, aku tahu yang dimaksud adalah perempuan. Ardi sudah seminggu tak bercerita kehidupannya, Ardi sibuk kegiatan kampus yang biasanya dia selalu merasa kelelahan karna tak pernah bisa tidur nyenyak karna kegiatan kampus ini menuntutnya untuk bangun pagi. Entah kenapa, kegiatan kali ini, dia begitu bersemangat.
"Nah, aku mau cerita ke kamu nih, aku lagi deket sama cewek, baru kenal pas kemarin itu sih, namanya Lani, pokoknya kamu harus ketemu sama dia"
"Iyakah? wah senengnya yang bentar lagi gak jomblo, setelah sekian tahun jomblo ya, hihihi"
Reaksi ku, yang seharusnya ku tunjukkan, karna aku sebagai sahabatnya, harus merasa bahagia kalau dia bahagia.
~~
Aku masih mencintai mu dalam diam ku, aku masih mencintaimu dalam suka mu, karna aku tahu, kamu mencintaiku, dalam persahabatanmu.
Ardi memang begitu dekat dengan Lani, tapi aku tak pernah tahu, bagaimana perasaan Ardi sebenarnya terhadap Lani, karna semenjak Ardi menceritakan tentang Lani kepada ku, dia tak pernah lagi menyebut nama Lani didepanku. Aku pun masih belum dikenalkan langsung oleh Ardi kepada Lani.
Ardi memang tak berubah, masih mengantarku pulang, masih menemani ku makan, mengerjakan tugas, menyemangatiku ketika aku lelah kuliah. Ardi masih seperti biasanya.
Semakin dekat dengan Lani, semakin sering Ardi berdua dengan Lani, Ardi tetap tak berubah.
Jika aku bisa membaca pikiran orang, pikiran Ardi lah yang ingin aku baca. Entah mengapa, dia belum juga meresmikan hubungan mereka.
~~
Ini tepat hari ulang tahun ku. Aku bersikap biasa saja, karna sama seperti tahun kemarin, tak akan ada hal yang menyenangkan.
To: Ardi
"kamu dimana? engga jemput aku?
Aku berjalan sendirian menuju kampus, yang memang tidak terlalu jauh. Aku berfikir, aku harus sedikit menghindar dari Ardi, agar dia bisa bebas dengan cintanya, Lani, yang setiap aku lihat, dia begitu bahagia semenjak kenal dengan Lani. Aku? Hanya bisa memberi kebahagiaan dia ketika tugas kuliahnya aku yang mengerjakan, itu saja.
Aku terlihat bodoh, saat aku mencintai seseorang tapi tak ada hal yang dapat aku lakukan, aku hanya diam, menunggu sesuatu yang tak pernah terjadi, jika aku tak pernah memberitahukan perasaanku.
Aku memang mencintai Ardi, tapi aku tak bisa mengungkapkan perasaan ini, aku takut kalau aku salah mengartikan kebaikan Ardi yang tentunya hanya untuk sahabat. Aku tak pernah ingin sakit hati karna cinta ini berbeda arah. Aku lebih baik mencintaimu, dalam diam.
~~
Ada kotak biru di atas bangku ku.
'Your best lover is your BestFriend'
Ardi
Secarik kertas, yang aku tak paham apa maksudnya, tiba-tiba membuatku ingin menangis.
"Selamat Ulang Tahun, kamu, sahabat terbaik dalam hidup yang selalu memberi keindahan, my bestfriend, will you be my girlfriend?" kata Ardi dengan memberiku sebuket bunga mawar merah.
Aku terdiam, menangis, dan mengangguk sekali, kemudian memeluknya.
~~
"Kamu, kalo cinta aku bilang dong, jangan cuman diem aja. Emangnya enak cinta terus gak diungkapin?"
"Hey, aku kan cuman gak mau ganggu kamu sama Lani"
"Aku sama Lani emang deket, tapi deg-deg an ini loh, cuman ada saat aku sama kamu. Ternyata aku sama Lani engga bisa sedeket sama kamu, kaya gini nih" Ardi dengan mencubit pipiku.
Sabtu, 14 Desember 2013
Jatuh Cinta Diam-Diam
Apakah kamu tau rasanya jatuh cinta diam-diam?
Aku tau rasanya jatuh cinta, jatuh cinta itu memang indah kalau kamu gak perlu menyimpan perasaanmu sendiri. Tapi, jatuh cinta itu lebih indah kalau kamu jatuh cinta pada orang yang jatuh cinta sama kamu juga.
Jatuh cinta diam-diam? haruskah cinta ini di pendam? tak perlu dibagi dengan orang yang di cintainya?
aku pernah jatuh cinta diam-diam, aku tau itu sulit, menjalani jatuh cinta yang hanya diri kita sendiri yang merasakan cinta.
Jatuh cinta diam-diam, bukanlah tidak indah jatuh cinta diam-diam, yang diam-diam melihatmu dari kejauhan, yang diam-diam memperhatikan tingkah lakumu, jalan mu, gaya bicara mu, tertawa lepas mu, yang diam-diam mencari keberadaanmu, mencari jadwal kuliahmu, hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja, yang diam-diam mendo'akanmu, mendo'akan yang terbaik untuk hubunganmu dengan dia, wanita yang aku tau, kamu sangat mencintainya.
Kenapa harus jatuh cinta diam-diam?
Aku hanya ingin mencintaimu, karna aku tau, tidak semua cinta harus dibalas dengan cinta, karna aku tau, tidak semua cinta pada tempatnya, karna tidak semua cinta harus bersatu.
Jatuh cinta diam-diam
Siapa yang sanggup jatuh cinta diam-diam?
Siapa yang sanggup jatuh cinta tanpa dicintai?
Aku sudah lama jatuh cinta diam-diam, dan aku tidak sanggup.
Aku masih belum-tidak-sanggup jatuh cinta diam-diam, yang diam-diam pula merasakan sakit hati, patah hati, cemburu, marah, sedih, melihat kamu, yang diam-diam aku cintai, tapi tak pernah sedikitpun mengerti, disini ada aku, yang-lebih-mencintaimu.
Dan yang paling membuatku sakit adalah, ketika melihat kamu, jatuh cinta dengan seseorang yang jatuh cinta sama kamu juga.
Tidak, Aku jatuh cinta diam-diam denganmu bukan karena aku tak berani menampakkan diriku, tapi karena aku tau, mencintaim itu sudah begitu indah, memperhatikanmu dari kejauhan sudah sangat bahagia.
Mengetahui kamu, aku sudah sangat merasa istimewa.
Bagaimana mungkin aku harus meminta hal yang lebih indah jika aku sudah bisa merasakan semua keindahan hanya dengan mencintaimu diam-diam?
Aku tak ingin menjadi manusia tak bersykur.
Begitupun, aku masih ingin mencintaimu, diam-diam, dibalik semua keindahanmu.
Aku tau rasanya jatuh cinta, jatuh cinta itu memang indah kalau kamu gak perlu menyimpan perasaanmu sendiri. Tapi, jatuh cinta itu lebih indah kalau kamu jatuh cinta pada orang yang jatuh cinta sama kamu juga.
Jatuh cinta diam-diam? haruskah cinta ini di pendam? tak perlu dibagi dengan orang yang di cintainya?
aku pernah jatuh cinta diam-diam, aku tau itu sulit, menjalani jatuh cinta yang hanya diri kita sendiri yang merasakan cinta.
Jatuh cinta diam-diam, bukanlah tidak indah jatuh cinta diam-diam, yang diam-diam melihatmu dari kejauhan, yang diam-diam memperhatikan tingkah lakumu, jalan mu, gaya bicara mu, tertawa lepas mu, yang diam-diam mencari keberadaanmu, mencari jadwal kuliahmu, hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja, yang diam-diam mendo'akanmu, mendo'akan yang terbaik untuk hubunganmu dengan dia, wanita yang aku tau, kamu sangat mencintainya.
Kenapa harus jatuh cinta diam-diam?
Aku hanya ingin mencintaimu, karna aku tau, tidak semua cinta harus dibalas dengan cinta, karna aku tau, tidak semua cinta pada tempatnya, karna tidak semua cinta harus bersatu.
Jatuh cinta diam-diam
Siapa yang sanggup jatuh cinta diam-diam?
Siapa yang sanggup jatuh cinta tanpa dicintai?
Aku sudah lama jatuh cinta diam-diam, dan aku tidak sanggup.
Aku masih belum-tidak-sanggup jatuh cinta diam-diam, yang diam-diam pula merasakan sakit hati, patah hati, cemburu, marah, sedih, melihat kamu, yang diam-diam aku cintai, tapi tak pernah sedikitpun mengerti, disini ada aku, yang-lebih-mencintaimu.
Dan yang paling membuatku sakit adalah, ketika melihat kamu, jatuh cinta dengan seseorang yang jatuh cinta sama kamu juga.
Tidak, Aku jatuh cinta diam-diam denganmu bukan karena aku tak berani menampakkan diriku, tapi karena aku tau, mencintaim itu sudah begitu indah, memperhatikanmu dari kejauhan sudah sangat bahagia.
Mengetahui kamu, aku sudah sangat merasa istimewa.
Bagaimana mungkin aku harus meminta hal yang lebih indah jika aku sudah bisa merasakan semua keindahan hanya dengan mencintaimu diam-diam?
Aku tak ingin menjadi manusia tak bersykur.
Begitupun, aku masih ingin mencintaimu, diam-diam, dibalik semua keindahanmu.
Senin, 15 April 2013
Bahagia = Sedih
Kalo kamu tanya, apa aku pernah bahagia, jelas.
Pernah. Dengan siapa? Jelas dengan kekasihku dulu. Tapi itu dulu. Sekarang aku
sedih karenanya. Bahagia namun mengapa tak bertahan lama? Iya, karna bahagia
itu akan berbanding lurus dengan kesedihan. Dia memberikan ku cinta, hanya
sebentar. Tapi disaat itulah, aku merasa aku terlalu bahagia berada
disampingnya. Dan setelah dia meninggalkanku, aku baru sadar, setiap ada
bahagia, kesedihan akan menanti. Kalau kamu berikir hubunganmu tidak bahagia,
kamu salah. Selalu akan ada bahagia disaat kalian dengan pasangan bertengkar.
Dan sebaliknya.
Bahagia bukan hanya dari pasangan saja kan?
Selalu berpikir positif lah dengan hidupmu. Nantinya
Tuhan akan mengerti, kapan saatnya kamu akan bahagia, dan kapan saatnya kamu akan
bersedih. Jangan pernah mengeluh tentang kesedihan yang kamu pikir tidak datang
tepat pada waktunya, jelas Tuhan sudah yang Maha Tahu kapan kamu siap untuk
bersedih.
Keep smiling and cheers up :)
Kita (gak) Harus Putus !!
“Aku masih ada
urusan, kamu makan sendiri aja ya.” Kata pria itu dihandphone ku. Dia memang
lebih mementingkan waktu dengan sahabat-sahabatnya daripada denganku. Entahlah,
aku tak tau alasan yang sebenarnya. “Iya, gak apa-apa. Kamu sampe jam berapa
nanti? Jangan pulang malem-malem ya, aku abis ini langsung pulang ke kos.” Kata
ku dengan lemah dan tak pernah ingin memaksa dia untuk menemani ku makan, atau
mengantarku pulang. “Iya sayang, gak sampe malem kok. Nanti kalo udah di kos,
aku sms lagi. Bye dear.” Dia menutup telpon. Seperti biasa. Tak terlihat kita
punya masalah bukan? Iya, kita hanya tak pernah bertengkar dalam dunia nyata,
tapi dalam keadaan hati dan perasaan, kita selalu bertengkar. Karena apa?
Karena kadang sifat egoku yang mulai muncul tetapi tak pernah dia anggap
serius. Aku ini tak pernah suka makan sendirian, aku ini takut keramaian. Tapi
dia tak pernah mengerti. Aku bisa apa?
Handphone ku
berbunyi, nada sms dari kekasihku. Dia menepati janjinya untuk memberitahu kalau
sudah pulang. Tidak jarang dia lupa untuk mengirimi ku pesan singkat sebelum
aku tidur bahkan ucapan selamat pagi darinya. Iya, dia belum pulang saat aku
tidur dan dia belum bangun saat aku sudah bangun. Begitulah setiap hari
hubungan ini. Tak pernah ada kemajuan pesat semenjak kita berdua memutuskan
untuk bersama.
From : Sayang
“Sayang, aku udh pulang nih. Have a
nice dream ya”
Gak perlu
membutuhkan waktu yang banyak untuk membalas pesannya. Aku selalu antusias
dengan pesan singkat yang selalu dia kirimkan.
To : Sayang
“Iya, Istirahat gih.. Luv ya”
Sudah, dia bukan
SMS person. Sekali sms jarang sekali ada balesan lain. Itulah kenapa aku selalu
antusias dengan pesan singkatnya.
“”
Setiap waktu
memang begini, aku tak pernah bisa memberikan, yah istilahnya yang terbaik.
Aku juga merasa gak pernah mengerti, apa seharusnya tugasku sebagai kekasihnya.
Menemani dia ke kampus? Dia sudah memiliki sahabat-sahabat yang sangat baik. Mengingatkan makan? Dia bukan orang yang pelupa dalam hal makan. Dia akan selalu makan saat dia merasa lapar. Dia bukan pemalas. Membantu mengerjakan tugas? Dia anak yang pintar, dia selalu mendapatkan IP >3,00 . Kadang mencintai dan menjadi kekasihnya adalah salah satu hal yang sangat patut disyukuri, karena dia adalah lelaki yang baik, dalam pandanganku. Untuk bisa menjadi kekasihnya pun tak mudah, karena banyak sekali perbedaan antara kita. Tapi entahlah, dia memilihku untuk menjadi kekasihnya.
Aku juga merasa gak pernah mengerti, apa seharusnya tugasku sebagai kekasihnya.
Menemani dia ke kampus? Dia sudah memiliki sahabat-sahabat yang sangat baik. Mengingatkan makan? Dia bukan orang yang pelupa dalam hal makan. Dia akan selalu makan saat dia merasa lapar. Dia bukan pemalas. Membantu mengerjakan tugas? Dia anak yang pintar, dia selalu mendapatkan IP >3,00 . Kadang mencintai dan menjadi kekasihnya adalah salah satu hal yang sangat patut disyukuri, karena dia adalah lelaki yang baik, dalam pandanganku. Untuk bisa menjadi kekasihnya pun tak mudah, karena banyak sekali perbedaan antara kita. Tapi entahlah, dia memilihku untuk menjadi kekasihnya.
To : Sayang
“Good morning, sunshine. Hopefully
that you always love me”
Tugasku setiap
pagi, mengirimkan dia pesan singkat agar dia selalu tau aku disini mencintainya
walau aku tak tau, seberapa pentingnya aku dimata dia saat dia membuka matanya.
“”
Ini tanggal 1,
ini adalah bulan ke 6 aku resmi menjadi kekasihnya. Ini adalah bulan yang
seharusnya bahagia daripada bulan yang lalu. Di bulan ini, aku harus bisa
menunjukkan bahwa ini aku, kekasihmu. Tapi, apa yang harus aku lakukan? Dia
terlalu sempurna tanpaku, dia sudah mandiri tanpaku.
From : Sayang
“Happy 6 monthversary dear, keep this
love ya J”
To : Sayang
“Happy 6 mothversary too dear, be a
good boy ya J”
Dia memang tak
pernah lupa tanggal 1. Tapi aku tak yakin, apakah dia juga tak pernah lupa
denganku.
“”
“Sayang, anterin
aku pulang ya.” Pinta ku sore itu. Aku lupa rasanya dijemput olehmu, aku lupa
rasanya duduk dibelakang punggungmu, aku lupa rasanya memeluk punggung itu.
Karena kamu terlalu sering sibuk dengan urusanmu yang menjadikan kamu lelaki
yang sempurna ‘dimata orang banyak’. “Iya, tunggu didepan, aku ambil motor
dulu.”
Aku tak ingin
langsung pulang, aku ingin lebih lama menikmati punggung itu. Aku masih ingin
memeluk punggung itu. “Sayang, cari tempat ya buat ngobrol. Aku pengen ngomong
banyak sama kamu.” Dia langsung membelokkan motor itu ke cafe yang dulu sering
kita kunjungi. Cafe yang dulu aku pertama kali memanggilnya ‘sayang’ .
“Mau ngomong apa
sayang? Serius banget, tumben.” Ucap dia dengan senyum nya yang menunjang
dugaan bahwa dia memang lelaki sempurna.
“Enggak, cuman kangen aja. Udah lama kita gak ngobrol gini gara-gara urusan kamu dan teman-temanmu. Kamu lupa ya punya aku?” Aku menunduk saat mengatakan itu. Tak berani melihat sorot matanya yang teduh. “Ya enggak lah, mana mungkin aku lupa. Kamu itu satu-satunya sayang.” Rayu dia dengan memegang tanganku. Aah, aku semakin tak kuasa, aku ingin menangis. “Kamu bahagia pacaran sama aku?” tanya ku takut. Aku gak siap dengar jawabannya.
“Enggak, cuman kangen aja. Udah lama kita gak ngobrol gini gara-gara urusan kamu dan teman-temanmu. Kamu lupa ya punya aku?” Aku menunduk saat mengatakan itu. Tak berani melihat sorot matanya yang teduh. “Ya enggak lah, mana mungkin aku lupa. Kamu itu satu-satunya sayang.” Rayu dia dengan memegang tanganku. Aah, aku semakin tak kuasa, aku ingin menangis. “Kamu bahagia pacaran sama aku?” tanya ku takut. Aku gak siap dengar jawabannya.
“Hei, kenapa kamu tanya seperti itu? Jelas
bahagia sayang, sangat.”
“Kamu bahagia
karena apa? Aku sama sekali belum merasa pernah membahagiakanmu. Aku sangat
terlihat kurang buatmu. Kamu itu sudah sempurna, ada atau gak ada aku, kamu
akan tetap sempurna.” Aku menangis. Aku sedih, memang seperti itu kenyataannya.
Dia sudah sempurna.
“Aku belum
sempurna sayang, manusia gak ada yang sempurna, kamu itu pelengkap hidupku.
Jangan ngomong aneh-aneh.”
“Kamu akan bisa
tanpaku.....”
“Maksud kamu?
Enggak sayang, aku gak bisa tanpamu...”
“Tapi, aku gak
pernah buat kamu bahagia, buat apa hubungan seperti ini diteruskan? Aku merasa,
aku gak berguna jadi kekasihmu....”
“Kita gak boleh
putus sayang, aku butuh kamu. Kita harus tetep sama-sama. Kalau kamu mau
bahagia, kalau kamu mau buat aku bahagia, kita gak harus putus. Kita harus
tetep sama-sama. Kita bahagia sama-sama nanti. Kamu itu berguna sayang, kamu
itu penyemangat pagiku. Percayalah, kalau hanya masalah bahagia, kita pasti
akan bahagia nantinya.” Ucap dia dengan setengah memeluk ku.
Dia memang
sempurna. Dan sekarang aku merasa bahagia. Karena aku memiliki seorang yang
sempurna.
Langganan:
Postingan (Atom)

