Labels

Sabtu, 21 Desember 2013

Happy Mothers Day

Happy Mothers Day,  Ibu-Mama-Umi-Emak-Mbok-and whatever you calling her. a beautiful woman.
Ada berjuta panggilan untuk mu, tapi pada intinya, hanya ditujukan untuk satu orang.
Selamat Hari Ibu! My super mom ever after.
Jarang sekali ngerayain Hari Ibu lagi, semenjak di pondok, dan terakhir kali ngerayain Hari Ibu pas lagi SMP, sama Abahku... Bilang ke Ibuk, gak usah masak, biar aku sama Abah aja yang beli makan. Yang nyapu lalala~
memang sih gak masak, malah ibuku nantangin, katanya mau enak-enakan seharian, kan Hari Ibu...
Aku sama Abah cuman bisa Iya'in aja. Betulan, siang-siang Ibuk cuman baca koran-liat gosip-dan tiduran di kamar. Siang-siang aku sama Abah rencana beli makan di luar. Udah mau berangkat, eh Ibuk bilang, biar Ibuk aja yang masak, masih ada sisa bahan makanan yang kemarin, uang buat beli makannya dikasih Ibuk aja... katanya... masak nya minta di bayar. Kan hari Ibu.... *kemudian hening

Hyaaaaaaaa pada akhirnya tetep aja Ibuk yang masak....
Katanya Ibuku, Hari Ibu, setahun sekali, jadi ngapain di rayain, wong setiap hari juga bakalan kaya gini....

Maksudnya, setiap hari bakalan masak.... dan kalo lagi gak pengen masak, gak mesti harus nunggu hari Ibu kan......

Itulah kenapa aku gak pernah ngerayain Hari Ibu...
Setahun kemarin aku ngerayain Hari Ibu, mau ganti DP BBM gak bisa....... trus kemudian aku sedih, soalnya ngerasa durhakaaaa, gara-gara waktu itu abis gatau nohong karena apa, dan akhirnya aku gak bisa ganti DP seharian fotoku sama Ibuku.

Dan tetap, menurut keyakinan Ibuku, Hari Ibu itu Hari dimana Ibu-Ibu harus jadi Ibu yang sebenernya, bukan malah mogok gak masak, dan enak-enak di rumah.

But, apapun lah itu, Selamat Hari Ibu :))

(Actually) Your best lover is your bestfriend



Bukankah kita di takdirkan bersama? Setelah masa-masa sulit kita berjalan dengan pengorbanan cinta kita? Tidakkah Tuhan memiliki rencana yang indah pada takdir cinta yang sedemikian lamanya kita bersama.
Aku memang menikmati cinta ini tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi seandainya dia, lelaki yang ku cintai, menemukan sosok yang lebih nyaman di bandingkan bersama ku, setelah 3 tahun merasakan bahu ku untuknya bersandar, dan tiba-tiba dia menemukan bahu yang lebih nyaman untuk bersandar.
Aku dan Ardi tak pernah menghiraukan perdebatan kecil ini, yang setiap hari, selalu mengusik malam ku, untuk menyesali, apa yang telah ku perbuat sehingga Ardi merasa tak nyaman dengan ku. Aku mungkin terlalu manja, menginginkan cinta yang begitu indah yang tak pernah ku harap ada perdebatan, tapi mustahil, jika ego ku selalu begini, tak pernah mengerti tentang keadaan Ardi.
Ardi sudah begitu indah, begitu mengertiku, begitu memahami setiap potongan lego harapan ku, dia selalu menemukan apa yang aku inginkan. Tapi tidak dengan ku.
Ardi memang berbeda dengan Ardi, setahun yang lalu, ketika cinta belum membentangi kita berdua, Ardi yang sekarang lebih baik, tapi aku, aku yang sekarang lebih lemah dan menjadi beban untuk Ardi.

“”

Ardi tak menjemputku pagi ini, dan aku seperti biasa, menelpon dia dan langsung memarahinya.
“Kamu kenapa sih ga jemput? Kalo gak bisa jemput, bilang dulu dong, sms kek, biar aku bisa bangun lebih pagi biar bisa jalan kaki ke kampusnya” kata ku dengan nada marah yang sama sekali tak di sela oleh Ardi.
Ardi hanya terdiam di telpon dan aku menutup telpon tanpa menunggu ucapannya. Aku terlalu marah. Karena ini bukan Ardi yang ku kenal.

“”
Sudah seminggu semenjak aku marah di telpon Ardi pagi itu, Ardi sama sekali tak pernah menjemputku. Ardi berubah.
Dia tak pernah menampakkan wajahnya di depanku, tak pernah mengirimkan ucapan ‘selamat pagi’ nya di handphone ku. Ardi benar-benar berubah.
Entah aku yang merasa Ardi yang berubah, ataukah aku memang yang berubah. Aku sama sekali tak pernah berfikir, cinta membuat semuanya berubah, yang dulu indah bisa saja lebih indah, ataukah sebaliknya, lebih menyakitkan. Cinta juga kadang membuat orang semakin dewasa, atau bisa saja semakin manja, karena ingin mendapat perhatian lebih. Itu aku, aku semakin manja kepada Ardi, karena aku ingin, Ardi sepenuhnya hanya kepada ku. Egois bukan?

“”
To : Ardi
Kamu dimana? Miss you so

From : Ardi
Aku di kos, kenapa?

Ardi tidak merindukan ku. Ardi begitu dingin, begitu berbeda.

“”
“Aku mau bicara sama kamu, kamu kemana aja? Kamu kenapa akhir-akhir ini?” tanya ku kepada Ardi, setelah sekian lama banyak pertanyaan yang muncul di pikiranku untuk mencari jawabannya.
“Aku gak kenapa-kenapa, justru kamu yang kenapa tiba-tiba kaya gini. Aku baik-baik aja sayang” jawab Ardi singkat diakhiri dengan senyum manisnya.
“Bohong, kamu berbeda akhir-akhir ini, kamu gak pernah cerita-cerita lagi, kamu serasa ngejauh dari aku, kamu yang dulu mana?”
“Kamu yang dulu, mana?”
“Maksudnya?”
“Iya, kamu yang dulu mana? Yang bisa ngebangkitin semangat aku, yang selalu dewasa, ngasih aku ceramah tiap kali aku bosen kuliah, yang bisa bikin suasana ceria, kamu yang dulu mana?”
Aku menangis, paham betul maksud Ardi. Aku tahu, aku sudah berubah, bukan Ardi yang berubah. Aku yang berbeda, bukan Ardi.
“Aku sakit, pas pagi-pagi engga jemput kamu itu, aku engga bilang kamu, soalnya aku ikutin kamu, sakit dan gak mau nyusahin orang, aku kangen kamu juga, tapi aku ikutin kata-kata mu, kangen itu bukan cuman kata-kata, tapi harus di buktiin. Tapi ternyata kamu gak kangen aku kan waktu itu, kamu engga langsung ke kos aku buat nunjukin kalo kamu kangen aku, padahal aku udah bilang aku di kos. Aku berharap banget kamu dateng saat itu.”
Aku semakin menangis, Ardi sudah begitu mengerti aku sejauh ini, sedangkan aku masih terbuai dengan romansa cinta yang tak dewasa.
“Udah jangan nangis, aku tahu, kamu ini terlalu cinta aku, makanya sikapnya kaya gini, pengen diperhatiin terus kan sama aku?” Ardi dengan senyum itu, aah aku akan sangat menyesal jika melewatkan lelaki seperti ini.
“Iya, maafin aku ya, aku gak ngerti harus gimana, setelah jadi pacar kamu, aku bingung harus bersikap kaya gimana”
“Bersikaplah seperti sahabat ku dulu, yang mencintai ku setulus hatimu, aku gak mau cinta ini terlihat sama dengan cinta mereka, yang hanya mencintai dengan hati, tanpa jiwa mereka. Aku mau kamu mencintai ku, dengan hati dan jiwa mu, yang kamu sendiri sudah tau, bagaimana seharusnya kamu bersikap, memahamiku, mengertiku. Aku gak mau persahabatan ini berakhir seperti cinta mereka, aku berharap, apapun yang terjadi, kamu tetap sahabat ku, yang mencintaiku, sahabat dalam hidupku, yang menemamiku, sampai nanti”

Jumat, 20 Desember 2013

Aku belum pernah buat kamu bahagia, makanya kita harus tetep sama sama biar aku bisa bikin kamu bahagia

Selasa, 17 Desember 2013

Happy Birthday, MySelf !!

Happy Birthday, Selamat Ulang Tahun.
AKU, yang ke 20 tahun, yang makin dewasa, yang harus makin dewasa, makin giat belajarnya, makin apapun yang terbaik.
20 tahun sudah, baru kali ini ngerayain ulang tahun, tanpa kedua orang tua :((
biasanya apapun yang terjadi, mesti nyempetin buat nengok anaknya ini, tapi kali ini engga.
Mungkin emang aku harus bener-bener dewasa.

I will.. no, I must to...

Nothing's special....

but, I'm happy, because I have you, you all my friend.

Thanks for remember this day, thanks for everything!
Birthday Gift From Zuhristawa L Aljabbar
Thankyou for remember me and this day.
You know me so well, I love this cute box, Yellow :))

Pas lagi mau keluar kos, tiba-tiba ada orang teriak "paket-paket" dan nyebutin nama ku, itu syok banget, ada gitu yang inget aku sampe-sampe paketannya nyampe pas hari H.
Salut, thankyou Ris!

Thankyou cimin-cimin (tanpa Maul dan Redy, ini begitu kurang :( )

Coffee Taste, makan dan sangat kenyang! meskipun bayar sendiri-sendiri :P

thankyou all, I love you all so much :*



Minggu, 15 Desember 2013

Your best lover is your bestfriend

Cinta, kamu pasti tahu apa itu cinta. Kamu pasti tahu bagaimana mencintai, bagaimana dicintai.
Tapi aku, aku hanya tahu mencintai, aku tak pernah tahu bagaimana rasanya dicintai, oleh seseorang yang begitu kita cintai. Aku hanya mencintai, sendiri, dalam senyum, tawa, tangis, aku mencintaimu.
"Hey, kenapa melamun? Aku mau pulang nih, mau aku anter apa jalan kaki?".
Iya, dia lelaki yang aku cintai, namanya Ardi, yang aku cintai sejak pertama kali kita memutuskan untuk bersahabat, sejak pertama kali kita merasakan bangku kuliah.
"Iyalah, kamu harus anter aku pulang, udah ngerjain tugas kamu, masa kamu gak mau berterima kasih?" ucapku, yang harus ku tunjukkan, bahwa aku masih sahabatnya, yang selalu membantu dia dan aku mencintainya. Ini sudah tahun ke-2 kita bersahabat, sudah tahun ke-2 pula aku mencintai, tanpa ia sadari. Ardi adalah lelaki yang mempunyai jiwa semangat yang tinggi, dia selalu menyemangati ku ketika aku merasa sendiri, tak terlalu paham dengan materi kuliah, bahkan ketika aku merasa, aku lelah mencintai dia, dia menyemangatiku tanpa dia ketahui, aku lelah berpura-pura dalam persahabatan ini.

~~

"Ardiiiiiiiiiii, kamu ngapain aja sih jemputnya lama? Aku udah laper nih". Kataku, dengan manyun, seolah-olah Ardi adalah kekasihku, dan ku tunjukkan sikap manjaku karna aku lelah menunggu, bukan karna aku lapar, karna aku sudah merindukan sosoknya yang seminggu ini dia sibuk dengan kegiatan kampus.
"Sorry, tadi aku habis anter orang dulu, nanti deh aku ceritain, yuk naik!"
deg.. aku tahu, aku paham betul maksud Ardi, aku tahu yang dimaksud adalah perempuan. Ardi sudah seminggu tak bercerita kehidupannya, Ardi sibuk kegiatan kampus yang biasanya dia selalu merasa kelelahan karna tak pernah bisa tidur nyenyak karna kegiatan kampus ini menuntutnya untuk bangun pagi. Entah kenapa, kegiatan kali ini, dia begitu bersemangat.
"Nah, aku mau cerita ke kamu nih, aku lagi deket sama cewek, baru kenal pas kemarin itu sih, namanya Lani, pokoknya kamu harus ketemu sama dia"
"Iyakah? wah senengnya yang bentar lagi gak jomblo, setelah sekian tahun jomblo ya, hihihi"
Reaksi ku, yang seharusnya ku tunjukkan, karna aku sebagai sahabatnya, harus merasa bahagia kalau dia bahagia.

~~

Aku masih mencintai mu dalam diam ku, aku masih mencintaimu dalam suka mu, karna aku tahu, kamu mencintaiku, dalam persahabatanmu.

Ardi memang begitu dekat dengan Lani, tapi aku tak pernah tahu, bagaimana perasaan Ardi sebenarnya terhadap Lani, karna semenjak Ardi menceritakan tentang Lani kepada ku, dia tak pernah lagi menyebut nama Lani didepanku. Aku pun masih belum dikenalkan langsung oleh Ardi kepada Lani.
Ardi memang tak berubah, masih mengantarku pulang, masih menemani ku makan, mengerjakan tugas, menyemangatiku ketika aku lelah kuliah. Ardi masih seperti biasanya. 

Semakin dekat dengan Lani, semakin sering Ardi berdua dengan Lani, Ardi tetap tak berubah.

Jika aku bisa membaca pikiran orang, pikiran Ardi lah yang ingin aku baca. Entah mengapa, dia belum juga meresmikan hubungan mereka.

~~

Ini tepat hari ulang tahun ku. Aku bersikap biasa saja, karna sama seperti tahun kemarin, tak akan ada hal yang menyenangkan. 

To: Ardi
"kamu dimana? engga jemput aku?

Aku berjalan sendirian menuju kampus, yang memang tidak terlalu jauh. Aku berfikir, aku harus sedikit menghindar dari Ardi, agar dia bisa bebas dengan cintanya, Lani, yang setiap aku lihat, dia begitu bahagia semenjak kenal dengan Lani. Aku? Hanya bisa memberi kebahagiaan dia ketika tugas kuliahnya aku yang mengerjakan, itu saja. 
Aku terlihat bodoh, saat aku mencintai seseorang tapi tak ada hal yang dapat aku lakukan, aku hanya diam, menunggu sesuatu yang tak pernah terjadi, jika aku tak pernah memberitahukan perasaanku.

Aku memang mencintai Ardi, tapi aku tak bisa mengungkapkan perasaan ini, aku takut kalau aku salah mengartikan kebaikan Ardi yang tentunya hanya untuk sahabat. Aku tak pernah ingin sakit hati karna cinta ini berbeda arah. Aku lebih baik mencintaimu, dalam diam.

~~
 Ada kotak biru di atas bangku ku.
'Your best lover is your BestFriend'
Ardi

Secarik kertas, yang aku tak paham apa maksudnya, tiba-tiba membuatku ingin menangis.
"Selamat Ulang Tahun, kamu, sahabat terbaik dalam hidup yang selalu memberi keindahan, my bestfriend, will you be my girlfriend?" kata Ardi dengan memberiku sebuket bunga mawar merah.

Aku terdiam, menangis, dan mengangguk sekali, kemudian memeluknya.

~~

"Kamu, kalo cinta aku bilang dong, jangan cuman diem aja. Emangnya enak cinta terus gak diungkapin?"
"Hey, aku kan cuman gak mau ganggu kamu sama Lani"

"Aku sama Lani emang deket, tapi deg-deg an ini loh, cuman ada saat aku sama kamu. Ternyata aku sama Lani engga bisa sedeket sama kamu, kaya gini nih" Ardi dengan mencubit pipiku.




Sabtu, 14 Desember 2013

Jatuh Cinta Diam-Diam

Apakah kamu tau rasanya jatuh cinta diam-diam?

Aku tau rasanya jatuh cinta, jatuh cinta itu memang indah kalau kamu gak perlu menyimpan perasaanmu sendiri. Tapi, jatuh cinta itu lebih indah kalau kamu jatuh cinta pada orang yang jatuh cinta sama kamu juga.

Jatuh cinta diam-diam? haruskah cinta ini di pendam? tak perlu dibagi dengan orang yang di cintainya?

aku pernah jatuh cinta diam-diam, aku tau itu sulit, menjalani jatuh cinta yang hanya diri kita sendiri yang merasakan cinta.

Jatuh cinta diam-diam, bukanlah tidak indah jatuh cinta diam-diam, yang diam-diam melihatmu dari kejauhan, yang diam-diam memperhatikan tingkah lakumu, jalan mu, gaya bicara mu, tertawa lepas mu, yang diam-diam mencari keberadaanmu, mencari jadwal kuliahmu, hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja, yang diam-diam mendo'akanmu, mendo'akan yang terbaik untuk hubunganmu dengan dia, wanita yang aku tau, kamu sangat mencintainya.

Kenapa harus jatuh cinta diam-diam?

Aku hanya ingin mencintaimu, karna aku tau, tidak semua cinta harus dibalas dengan cinta, karna aku tau, tidak semua cinta pada tempatnya, karna tidak semua cinta harus bersatu.

Jatuh cinta diam-diam

Siapa yang sanggup jatuh cinta diam-diam?
Siapa yang sanggup jatuh cinta tanpa dicintai?

Aku sudah lama jatuh cinta diam-diam, dan aku tidak sanggup.
Aku masih belum-tidak-sanggup jatuh cinta diam-diam, yang diam-diam pula merasakan sakit hati, patah hati, cemburu, marah, sedih, melihat kamu, yang diam-diam aku cintai, tapi tak pernah sedikitpun mengerti, disini ada aku, yang-lebih-mencintaimu.
Dan yang paling membuatku sakit adalah, ketika melihat kamu, jatuh cinta dengan seseorang yang jatuh cinta sama kamu juga.

Tidak, Aku jatuh cinta diam-diam denganmu bukan karena aku tak berani menampakkan diriku, tapi karena aku tau, mencintaim itu sudah begitu indah, memperhatikanmu dari kejauhan sudah sangat bahagia.
Mengetahui kamu, aku sudah sangat merasa istimewa.
Bagaimana mungkin aku harus meminta hal yang lebih indah jika aku sudah bisa merasakan semua keindahan hanya dengan mencintaimu diam-diam?

Aku tak ingin menjadi manusia tak bersykur.

Begitupun, aku masih ingin mencintaimu, diam-diam, dibalik semua keindahanmu.


Apapun namanya kesunyian, akan sangat menyiksa jika memori ini masih mengingatmu

Senin, 15 April 2013

Bahagia = Sedih



Kalo kamu tanya, apa aku pernah bahagia, jelas. Pernah. Dengan siapa? Jelas dengan kekasihku dulu. Tapi itu dulu. Sekarang aku sedih karenanya. Bahagia namun mengapa tak bertahan lama? Iya, karna bahagia itu akan berbanding lurus dengan kesedihan. Dia memberikan ku cinta, hanya sebentar. Tapi disaat itulah, aku merasa aku terlalu bahagia berada disampingnya. Dan setelah dia meninggalkanku, aku baru sadar, setiap ada bahagia, kesedihan akan menanti. Kalau kamu berikir hubunganmu tidak bahagia, kamu salah. Selalu akan ada bahagia disaat kalian dengan pasangan bertengkar. Dan sebaliknya.
Bahagia bukan hanya dari pasangan saja kan?
Selalu berpikir positif lah dengan hidupmu. Nantinya Tuhan akan mengerti, kapan saatnya kamu akan bahagia, dan kapan saatnya kamu akan bersedih. Jangan pernah mengeluh tentang kesedihan yang kamu pikir tidak datang tepat pada waktunya, jelas Tuhan sudah yang Maha Tahu kapan kamu siap untuk bersedih.

Keep smiling and cheers up :) 

Kita (gak) Harus Putus !!



“Aku masih ada urusan, kamu makan sendiri aja ya.” Kata pria itu dihandphone ku. Dia memang lebih mementingkan waktu dengan sahabat-sahabatnya daripada denganku. Entahlah, aku tak tau alasan yang sebenarnya. “Iya, gak apa-apa. Kamu sampe jam berapa nanti? Jangan pulang malem-malem ya, aku abis ini langsung pulang ke kos.” Kata ku dengan lemah dan tak pernah ingin memaksa dia untuk menemani ku makan, atau mengantarku pulang. “Iya sayang, gak sampe malem kok. Nanti kalo udah di kos, aku sms lagi. Bye dear.” Dia menutup telpon. Seperti biasa. Tak terlihat kita punya masalah bukan? Iya, kita hanya tak pernah bertengkar dalam dunia nyata, tapi dalam keadaan hati dan perasaan, kita selalu bertengkar. Karena apa? Karena kadang sifat egoku yang mulai muncul tetapi tak pernah dia anggap serius. Aku ini tak pernah suka makan sendirian, aku ini takut keramaian. Tapi dia tak pernah mengerti. Aku bisa apa?
Handphone ku berbunyi, nada sms dari kekasihku. Dia menepati janjinya untuk memberitahu kalau sudah pulang. Tidak jarang dia lupa untuk mengirimi ku pesan singkat sebelum aku tidur bahkan ucapan selamat pagi darinya. Iya, dia belum pulang saat aku tidur dan dia belum bangun saat aku sudah bangun. Begitulah setiap hari hubungan ini. Tak pernah ada kemajuan pesat semenjak kita berdua memutuskan untuk bersama.

From : Sayang
“Sayang, aku udh pulang nih. Have a nice dream ya”

Gak perlu membutuhkan waktu yang banyak untuk membalas pesannya. Aku selalu antusias dengan pesan singkat yang selalu dia kirimkan.

To : Sayang
“Iya, Istirahat gih.. Luv ya”

Sudah, dia bukan SMS person. Sekali sms jarang sekali ada balesan lain. Itulah kenapa aku selalu antusias dengan pesan singkatnya.
                                                                        “”
Setiap waktu memang begini, aku tak pernah bisa memberikan, yah istilahnya yang terbaik.
Aku juga merasa gak pernah mengerti, apa seharusnya tugasku sebagai kekasihnya.
Menemani dia ke kampus? Dia sudah memiliki sahabat-sahabat yang sangat baik. Mengingatkan makan? Dia bukan orang yang pelupa dalam hal makan. Dia akan selalu makan saat dia merasa lapar. Dia bukan pemalas. Membantu mengerjakan tugas? Dia anak yang pintar, dia selalu mendapatkan IP >3,00 . Kadang mencintai dan menjadi kekasihnya adalah salah satu hal yang sangat patut disyukuri, karena dia adalah lelaki yang baik, dalam pandanganku. Untuk bisa menjadi kekasihnya pun tak mudah, karena banyak sekali perbedaan antara kita. Tapi entahlah, dia memilihku untuk menjadi kekasihnya.

To : Sayang
“Good morning, sunshine. Hopefully that you always love me”

Tugasku setiap pagi, mengirimkan dia pesan singkat agar dia selalu tau aku disini mencintainya walau aku tak tau, seberapa pentingnya aku dimata dia saat dia membuka matanya.
                                                                        “”
Ini tanggal 1, ini adalah bulan ke 6 aku resmi menjadi kekasihnya. Ini adalah bulan yang seharusnya bahagia daripada bulan yang lalu. Di bulan ini, aku harus bisa menunjukkan bahwa ini aku, kekasihmu. Tapi, apa yang harus aku lakukan? Dia terlalu sempurna tanpaku, dia sudah mandiri tanpaku.

From : Sayang
“Happy 6 monthversary dear, keep this love ya J
To : Sayang
“Happy 6 mothversary too dear, be a good boy ya J

Dia memang tak pernah lupa tanggal 1. Tapi aku tak yakin, apakah dia juga tak pernah lupa denganku.
                                                                        “”
“Sayang, anterin aku pulang ya.” Pinta ku sore itu. Aku lupa rasanya dijemput olehmu, aku lupa rasanya duduk dibelakang punggungmu, aku lupa rasanya memeluk punggung itu. Karena kamu terlalu sering sibuk dengan urusanmu yang menjadikan kamu lelaki yang sempurna ‘dimata orang banyak’. “Iya, tunggu didepan, aku ambil motor dulu.”
Aku tak ingin langsung pulang, aku ingin lebih lama menikmati punggung itu. Aku masih ingin memeluk punggung itu. “Sayang, cari tempat ya buat ngobrol. Aku pengen ngomong banyak sama kamu.” Dia langsung membelokkan motor itu ke cafe yang dulu sering kita kunjungi. Cafe yang dulu aku pertama kali memanggilnya ‘sayang’ .
“Mau ngomong apa sayang? Serius banget, tumben.” Ucap dia dengan senyum nya yang menunjang dugaan bahwa dia memang lelaki sempurna.
“Enggak, cuman kangen aja. Udah lama kita gak ngobrol gini gara-gara urusan kamu dan teman-temanmu. Kamu lupa ya punya aku?” Aku menunduk saat mengatakan itu. Tak berani melihat sorot matanya yang teduh. “Ya enggak lah, mana mungkin aku lupa. Kamu itu satu-satunya sayang.” Rayu dia dengan memegang tanganku. Aah, aku semakin tak kuasa, aku ingin menangis. “Kamu bahagia pacaran sama aku?” tanya ku takut. Aku gak siap dengar jawabannya.
 “Hei, kenapa kamu tanya seperti itu? Jelas bahagia sayang, sangat.”
“Kamu bahagia karena apa? Aku sama sekali belum merasa pernah membahagiakanmu. Aku sangat terlihat kurang buatmu. Kamu itu sudah sempurna, ada atau gak ada aku, kamu akan tetap sempurna.” Aku menangis. Aku sedih, memang seperti itu kenyataannya. Dia sudah sempurna.
“Aku belum sempurna sayang, manusia gak ada yang sempurna, kamu itu pelengkap hidupku. Jangan ngomong aneh-aneh.”
“Kamu akan bisa tanpaku.....”
“Maksud kamu? Enggak sayang, aku gak bisa tanpamu...”
“Tapi, aku gak pernah buat kamu bahagia, buat apa hubungan seperti ini diteruskan? Aku merasa, aku gak berguna jadi kekasihmu....”
“Kita gak boleh putus sayang, aku butuh kamu. Kita harus tetep sama-sama. Kalau kamu mau bahagia, kalau kamu mau buat aku bahagia, kita gak harus putus. Kita harus tetep sama-sama. Kita bahagia sama-sama nanti. Kamu itu berguna sayang, kamu itu penyemangat pagiku. Percayalah, kalau hanya masalah bahagia, kita pasti akan bahagia nantinya.” Ucap dia dengan setengah memeluk ku.
Dia memang sempurna. Dan sekarang aku merasa bahagia. Karena aku memiliki seorang yang sempurna.