Labels

Sabtu, 21 Desember 2013

(Actually) Your best lover is your bestfriend



Bukankah kita di takdirkan bersama? Setelah masa-masa sulit kita berjalan dengan pengorbanan cinta kita? Tidakkah Tuhan memiliki rencana yang indah pada takdir cinta yang sedemikian lamanya kita bersama.
Aku memang menikmati cinta ini tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi seandainya dia, lelaki yang ku cintai, menemukan sosok yang lebih nyaman di bandingkan bersama ku, setelah 3 tahun merasakan bahu ku untuknya bersandar, dan tiba-tiba dia menemukan bahu yang lebih nyaman untuk bersandar.
Aku dan Ardi tak pernah menghiraukan perdebatan kecil ini, yang setiap hari, selalu mengusik malam ku, untuk menyesali, apa yang telah ku perbuat sehingga Ardi merasa tak nyaman dengan ku. Aku mungkin terlalu manja, menginginkan cinta yang begitu indah yang tak pernah ku harap ada perdebatan, tapi mustahil, jika ego ku selalu begini, tak pernah mengerti tentang keadaan Ardi.
Ardi sudah begitu indah, begitu mengertiku, begitu memahami setiap potongan lego harapan ku, dia selalu menemukan apa yang aku inginkan. Tapi tidak dengan ku.
Ardi memang berbeda dengan Ardi, setahun yang lalu, ketika cinta belum membentangi kita berdua, Ardi yang sekarang lebih baik, tapi aku, aku yang sekarang lebih lemah dan menjadi beban untuk Ardi.

“”

Ardi tak menjemputku pagi ini, dan aku seperti biasa, menelpon dia dan langsung memarahinya.
“Kamu kenapa sih ga jemput? Kalo gak bisa jemput, bilang dulu dong, sms kek, biar aku bisa bangun lebih pagi biar bisa jalan kaki ke kampusnya” kata ku dengan nada marah yang sama sekali tak di sela oleh Ardi.
Ardi hanya terdiam di telpon dan aku menutup telpon tanpa menunggu ucapannya. Aku terlalu marah. Karena ini bukan Ardi yang ku kenal.

“”
Sudah seminggu semenjak aku marah di telpon Ardi pagi itu, Ardi sama sekali tak pernah menjemputku. Ardi berubah.
Dia tak pernah menampakkan wajahnya di depanku, tak pernah mengirimkan ucapan ‘selamat pagi’ nya di handphone ku. Ardi benar-benar berubah.
Entah aku yang merasa Ardi yang berubah, ataukah aku memang yang berubah. Aku sama sekali tak pernah berfikir, cinta membuat semuanya berubah, yang dulu indah bisa saja lebih indah, ataukah sebaliknya, lebih menyakitkan. Cinta juga kadang membuat orang semakin dewasa, atau bisa saja semakin manja, karena ingin mendapat perhatian lebih. Itu aku, aku semakin manja kepada Ardi, karena aku ingin, Ardi sepenuhnya hanya kepada ku. Egois bukan?

“”
To : Ardi
Kamu dimana? Miss you so

From : Ardi
Aku di kos, kenapa?

Ardi tidak merindukan ku. Ardi begitu dingin, begitu berbeda.

“”
“Aku mau bicara sama kamu, kamu kemana aja? Kamu kenapa akhir-akhir ini?” tanya ku kepada Ardi, setelah sekian lama banyak pertanyaan yang muncul di pikiranku untuk mencari jawabannya.
“Aku gak kenapa-kenapa, justru kamu yang kenapa tiba-tiba kaya gini. Aku baik-baik aja sayang” jawab Ardi singkat diakhiri dengan senyum manisnya.
“Bohong, kamu berbeda akhir-akhir ini, kamu gak pernah cerita-cerita lagi, kamu serasa ngejauh dari aku, kamu yang dulu mana?”
“Kamu yang dulu, mana?”
“Maksudnya?”
“Iya, kamu yang dulu mana? Yang bisa ngebangkitin semangat aku, yang selalu dewasa, ngasih aku ceramah tiap kali aku bosen kuliah, yang bisa bikin suasana ceria, kamu yang dulu mana?”
Aku menangis, paham betul maksud Ardi. Aku tahu, aku sudah berubah, bukan Ardi yang berubah. Aku yang berbeda, bukan Ardi.
“Aku sakit, pas pagi-pagi engga jemput kamu itu, aku engga bilang kamu, soalnya aku ikutin kamu, sakit dan gak mau nyusahin orang, aku kangen kamu juga, tapi aku ikutin kata-kata mu, kangen itu bukan cuman kata-kata, tapi harus di buktiin. Tapi ternyata kamu gak kangen aku kan waktu itu, kamu engga langsung ke kos aku buat nunjukin kalo kamu kangen aku, padahal aku udah bilang aku di kos. Aku berharap banget kamu dateng saat itu.”
Aku semakin menangis, Ardi sudah begitu mengerti aku sejauh ini, sedangkan aku masih terbuai dengan romansa cinta yang tak dewasa.
“Udah jangan nangis, aku tahu, kamu ini terlalu cinta aku, makanya sikapnya kaya gini, pengen diperhatiin terus kan sama aku?” Ardi dengan senyum itu, aah aku akan sangat menyesal jika melewatkan lelaki seperti ini.
“Iya, maafin aku ya, aku gak ngerti harus gimana, setelah jadi pacar kamu, aku bingung harus bersikap kaya gimana”
“Bersikaplah seperti sahabat ku dulu, yang mencintai ku setulus hatimu, aku gak mau cinta ini terlihat sama dengan cinta mereka, yang hanya mencintai dengan hati, tanpa jiwa mereka. Aku mau kamu mencintai ku, dengan hati dan jiwa mu, yang kamu sendiri sudah tau, bagaimana seharusnya kamu bersikap, memahamiku, mengertiku. Aku gak mau persahabatan ini berakhir seperti cinta mereka, aku berharap, apapun yang terjadi, kamu tetap sahabat ku, yang mencintaiku, sahabat dalam hidupku, yang menemamiku, sampai nanti”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar