Bukankah kita di
takdirkan bersama? Setelah masa-masa sulit kita berjalan dengan pengorbanan
cinta kita? Tidakkah Tuhan memiliki rencana yang indah pada takdir cinta yang
sedemikian lamanya kita bersama.
Aku memang menikmati
cinta ini tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi seandainya dia, lelaki yang
ku cintai, menemukan sosok yang lebih nyaman di bandingkan bersama ku, setelah
3 tahun merasakan bahu ku untuknya bersandar, dan tiba-tiba dia menemukan bahu
yang lebih nyaman untuk bersandar.
Aku dan Ardi tak pernah
menghiraukan perdebatan kecil ini, yang setiap hari, selalu mengusik malam ku,
untuk menyesali, apa yang telah ku perbuat sehingga Ardi merasa tak nyaman
dengan ku. Aku mungkin terlalu manja, menginginkan cinta yang begitu indah yang
tak pernah ku harap ada perdebatan, tapi mustahil, jika ego ku selalu begini,
tak pernah mengerti tentang keadaan Ardi.
Ardi sudah begitu
indah, begitu mengertiku, begitu memahami setiap potongan lego harapan ku, dia
selalu menemukan apa yang aku inginkan. Tapi tidak dengan ku.
Ardi memang berbeda
dengan Ardi, setahun yang lalu, ketika cinta belum membentangi kita berdua, Ardi
yang sekarang lebih baik, tapi aku, aku yang sekarang lebih lemah dan menjadi
beban untuk Ardi.
“”
Ardi tak menjemputku
pagi ini, dan aku seperti biasa, menelpon dia dan langsung memarahinya.
“Kamu kenapa sih ga
jemput? Kalo gak bisa jemput, bilang dulu dong, sms kek, biar aku bisa bangun
lebih pagi biar bisa jalan kaki ke kampusnya” kata ku dengan nada marah yang
sama sekali tak di sela oleh Ardi.
Ardi hanya terdiam di
telpon dan aku menutup telpon tanpa menunggu ucapannya. Aku terlalu marah.
Karena ini bukan Ardi yang ku kenal.
“”
Sudah seminggu semenjak
aku marah di telpon Ardi pagi itu, Ardi sama sekali tak pernah menjemputku.
Ardi berubah.
Dia tak pernah
menampakkan wajahnya di depanku, tak pernah mengirimkan ucapan ‘selamat pagi’
nya di handphone ku. Ardi benar-benar berubah.
Entah aku yang merasa
Ardi yang berubah, ataukah aku memang yang berubah. Aku sama sekali tak pernah
berfikir, cinta membuat semuanya berubah, yang dulu indah bisa saja lebih
indah, ataukah sebaliknya, lebih menyakitkan. Cinta juga kadang membuat orang
semakin dewasa, atau bisa saja semakin manja, karena ingin mendapat perhatian
lebih. Itu aku, aku semakin manja kepada Ardi, karena aku ingin, Ardi
sepenuhnya hanya kepada ku. Egois bukan?
“”
To
: Ardi
Kamu
dimana? Miss you so
From
: Ardi
Aku
di kos, kenapa?
Ardi tidak merindukan
ku. Ardi begitu dingin, begitu berbeda.
“”
“Aku mau bicara sama
kamu, kamu kemana aja? Kamu kenapa akhir-akhir ini?” tanya ku kepada Ardi,
setelah sekian lama banyak pertanyaan yang muncul di pikiranku untuk mencari
jawabannya.
“Aku gak kenapa-kenapa,
justru kamu yang kenapa tiba-tiba kaya gini. Aku baik-baik aja sayang” jawab
Ardi singkat diakhiri dengan senyum manisnya.
“Bohong, kamu berbeda
akhir-akhir ini, kamu gak pernah cerita-cerita lagi, kamu serasa ngejauh dari
aku, kamu yang dulu mana?”
“Kamu yang dulu, mana?”
“Maksudnya?”
“Iya, kamu yang dulu
mana? Yang bisa ngebangkitin semangat aku, yang selalu dewasa, ngasih aku
ceramah tiap kali aku bosen kuliah, yang bisa bikin suasana ceria, kamu yang
dulu mana?”
Aku menangis, paham betul
maksud Ardi. Aku tahu, aku sudah berubah, bukan Ardi yang berubah. Aku yang
berbeda, bukan Ardi.
“Aku sakit, pas
pagi-pagi engga jemput kamu itu, aku engga bilang kamu, soalnya aku ikutin
kamu, sakit dan gak mau nyusahin orang, aku kangen kamu juga, tapi aku ikutin
kata-kata mu, kangen itu bukan cuman kata-kata, tapi harus di buktiin. Tapi ternyata
kamu gak kangen aku kan waktu itu, kamu engga langsung ke kos aku buat nunjukin
kalo kamu kangen aku, padahal aku udah bilang aku di kos. Aku berharap banget
kamu dateng saat itu.”
Aku semakin menangis,
Ardi sudah begitu mengerti aku sejauh ini, sedangkan aku masih terbuai dengan
romansa cinta yang tak dewasa.
“Udah jangan nangis,
aku tahu, kamu ini terlalu cinta aku, makanya sikapnya kaya gini, pengen
diperhatiin terus kan sama aku?” Ardi dengan senyum itu, aah aku akan sangat
menyesal jika melewatkan lelaki seperti ini.
“Iya, maafin aku ya,
aku gak ngerti harus gimana, setelah jadi pacar kamu, aku bingung harus
bersikap kaya gimana”
“Bersikaplah seperti
sahabat ku dulu, yang mencintai ku setulus hatimu, aku gak mau cinta ini
terlihat sama dengan cinta mereka, yang hanya mencintai dengan hati, tanpa jiwa
mereka. Aku mau kamu mencintai ku, dengan hati dan jiwa mu, yang kamu sendiri
sudah tau, bagaimana seharusnya kamu bersikap, memahamiku, mengertiku. Aku gak
mau persahabatan ini berakhir seperti cinta mereka, aku berharap, apapun yang
terjadi, kamu tetap sahabat ku, yang mencintaiku, sahabat dalam hidupku, yang
menemamiku, sampai nanti”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar