Labels

Senin, 06 Januari 2014

Feel Again

It's been a long time coming since I've seen your face
I've been everywhere and back trying to replace
Everything that I had 'til my feet went numb
Praying like a fool that's been on the run
Heart's still beating but it's not working
It's like a million dollar phone that you just can't ring
I reached out trying to love but I feel nothing
My heart is numb
But with you
I feel again
With you
I can feel again
 
I'm feeling better ever since you know me
I was a lonely soul but that's the old me
It's been a long time coming since I've seen your face
I've been everywhere and back trying to replace
Everything that I broke 'til my feet went numb
 
Praying like a fool just shy of a gun
Heart still beating but it's not working
It's like a hundred thousand voices that just can't sing
I reached out trying to love but I feel nothing


I'm feeling better ever since you know me
I was a lonely soul but that's the old me
A little wiser now from what you've shown me
I feel again
Feel again...

Jumat, 03 Januari 2014

gak ngerti kudu dikasih judul apa~~

Cinta dan waktu akan saling berkaitan, lamanya waktu mungkin akan mempengaruhi cinta. Dan aku harap cintaku ini akan selalu tumbuh seiring berjalannya waktu, hubungan ku dengan lelaki yang ku cintai, yang sudah mendampingiku selama 4 tahun, yang sudah berbagi segala kisah hidupnya dengan ku, lelaki yang amat ku cintai setelah Ayah ku, lelaki yang sampai saat ini, aku berdo’a dia menjadi jodohku nantinya.
Lelaki ini bukanlah type yang sama dengan lelaki lain di luar sana, dia tak pernah menuntut ku untuk ini itu, karena, menurut dia, suatu hubungan bukanlah karena tuntutan, batasan, kekangan, tapi kita harus saling tahu diri. Aku tahu diri, aku siapa, jadi aku tahu batasan ku ketika aku di luar, aku tahu diri aku memberi kepercayaan penuh kepada dia, karena aku tahu, aku sudah memegang komitmen untuk saling bersama. Kepercayaan, kejujuran, setia, lelaki ini tak pernah memaksa ku untuk melakukan hal ini, karena pada dasarnya aku sudah tahu, ini lah sesuatu yang harus dijalani oleh dua orang yang sudah berkomitmen untuk bersama.

“”
To : Dearest
Bagaimana pagi mu hari ini? Aku harap masih mencintai ku
From : Dearest
Aku masih mencintai mu dan akan tetap selalu mencintai mu

Kita bukan lagi remaja yang di mabuk cinta dengan komunikasi yang terlalu sering, aku menyapanya setiap pagi, dan terkadang, sapaan pagi akan menjadi sapaan terakhir di hari ini. Lelaki ini sudah mencintai ku, bagi ku adalah cukup, saling mencintai adalah sesuatu yang penting dalam setiap hubungan.
Tapi, bukan berarti tak mencintai, kita bisa saja berhenti untuk bersama, karena akan selalu ada aku yang mencintai mu, tanpa perlu kamu mencintai ku, aku masih ingin tetap kita bersama.

“”
“sudah lama kita gak pergi bareng, aku kangen suasana malem seperti ini” di tengah keramaian cafe ini, aku mencoba untuk tetap menunjukkan seberapa pentingnya arti hadirnya untuk setiap malam ku.
“iya, aku juga kangen, tapi aku mau ngomong sesuatu sama kamu”
“apa? Apa ada yang serius?”
“kamu tau, kita sudah lama seperti ini, bersama, setiap waktu.......”
“engga, kita udah jarang ketemu.....”
“iya, maksud ku, kita udah lama bersama.... dan sepertinya aku masih harus mikir lagi, harus menjalani hubungan ini atau engga....”
..............
“maafin aku...”
Aku gak ngerti harus gimana lagi kecuali menangis, menangis, menangis.... memohon untuk dia tetap tinggal, tapi tetap bibir terlalu kelu untuk mengeluarkan kata-kata memohon.... aku sama sekali nggak ngerti, bukankah cinta saja sudah cukup untuk membuat orang tetap tinggal di samping kita?
“kamu selingkuh?” tanya ku dengan segala kekuatan ku
“enggak, aku enggak pernah selingkuh sekalipun itu, aku cuman masih harus mikir bagaimana kelanjutan hubungan ini, bukan berarti aku udah gak sayang kamu... justru aku sayang banget sama kamu”
“bohong, kalo kamu sayang, kenapa harus kaya gini, bukankah cinta aja udah cukup untuk tau bagaimana kelanjutan hubungan ini?”

Aku meninggalkannya sendiri disana, dan aku masih belum paham, bagaimana bisa dua orang manusia yang sudah bersama-sama begitu lamanya mencintai, berbagi kasih sayang, tiba-tiba berjalan sendiri-sendiri lagi. Cinta yang sudah begitu menyenangkan tiba-tiba harus ada kenangan yang menyedihkan. Cinta yang sudah begitu eratnya, dengan mudah terpisah dengan tiba-tiba. Sebenarnya itu apa? Haruskah ada hal yang begitu menyedihkan dalam cinta? Haruskah cinta itu di sertai dengan tangisan? Haruskah cinta itu pada akhirnya akan ditinggalkan?

Aku harus mencari tau, ini bukan lah akhir dari cinta, jika ternyata ada airmata yang harus menetes pada setiap cinta.

“”

Aku mendatangi kampus ini lagi, setelah peristiwa yang begitu menyayat sehingga sekecil apapun cahaya harapan untuk kembali bersama, terasa begitu membahagiakan.
Aku berharap mendapat jawaban yang berbeda, ketika lelaki yang sudah ku kenal lama ini melihat ku dengan wajah yang tak ku tunjukan kesedihan. Aku berharap ia dapat menarik ucapan yang sama sekali aku belum bisa lupakan, sehuruf pun apa yang di ucapkannya.

“Selamat pagi, bagaimana hari mu hari ini?” sapa ku dengan ku tahan semua airmata yang ingin menetes tapi masih ku tahan demi lelaki yang paling ku cintai ini.
“Selamat pagi, kamu ngapain kesini? Cepet pulang gih, mendung banget sekarang... aku ada kelas, aku ke kelas dulu ya..” lalu pergi, tanpa kata-kata lain yang sangat ingin ku dengar....Sayang...

Aku masih belum ingin menyerah, untuk memperbaiki apa yang sebenarnya harus di perbaiki, aku masih akan terus memohon, sampai lelaki ini benar-benar menunjukkan bahwa dia udah gak mau lagi dengan ku. Karena aku sangat yakin, bukan cinta jika pada akhirnya harus ada yang terluka.

“”

“Aku mau ngomong sama kamu”
“Maaf, aku ada urusan lain....”
Ini bukan lelaki yang sudah mendampingi ku 4 tahun, ini bukan lelaki yang mencintaiku seperti biasanya.
“Yasudah, aku cuman mau bilang, makasih, makasih kamu udah nunjukin sikap ini, sikap yang bilang, kalau kamu udah gak mau lagi sama aku, okee aku akan berhenti memohon ke kamu, ngejar-ngejar kamu, percuma kalo kamunya sendiri gak mau di kejar. Makasih untuk semua dan maaf. Dan perlu kamu tau, hargailah orang-orang yang mencintaimu, karena ia berkorban, mengemis cinta untuk mu, karena ia hanya ingin menunjukkan seberapa berharganya kamu untuk dia. Makasih, aku cukup tahu diri sekarang”

Aku kuat, aku harus kuat tanpa air mata yang dapat melemah kan ku, aku harus kuat, karena air mata bukanlah cara yang terbaik untuk mengatasi masalah, aku harus kuat, karena aku tau, ini bukanlah cinta yang seperti orang bicarakan.


“”

Lama sudah aku sendiri, berjalan sendiri, tanpa orang yang ku cintai lagi, tanpa orang yang sering ku kasihi, dan aku mengerti, ada kalanya kita harus sendiri, dan ada kalanya kita harus bersama. Mungkin memang ini waktunya aku sendiri. Bukan karena aku yang ingin sendiri, tapi dia, lelaki itu menginginkan aku sendirian.

Jika pada akhirnya dua orang itu harus berjalan sendiri-sendiri dengan tujuan yang berbeda, percuma waktu yang telah mereka jalani bersama jika mereka belum bisa mengubah jalan tujuan mereka menjadi sama.

Jika ternyata tujuan mereka berbeda pada awalnya, kenapa mereka bisa bertemu di persimpangan jalan?

Kalau ada dua orang yang memutuskan untuk berjalan bersama-sama, berarti mereka punya tujuan yang sama, jika di tengah jalan mereka berpisah, itu berarti mereka hanya ingin mencari teman ketika di perjalanan, bukan berjalan untuk mencapai tujuan.

Aku menyakini, orang yang sudah sekian lama berjalan bersama, ketika berhenti di tengah jalan dengan alasan tujuan mereka berbeda, sebenarnya salah satu dari mereka belum memiliki tujuan.

Lelaki yang dulu amat ku cintai memutuskan berjalan dengan ku dengan tujuan yang sama, jika pada akhirnya dia mulai goyah untuk melanjutkan perjalanan ini atau enggak, aku rasa dia masih belum memiliki tujuan. Bagaimana bisa aku berjalan dengan seseorang yang buta arah?

“”

“Dis, aku mau ngomong.. dengerin aku sebentar aja”
Lelaki yang masih begitu hangat di mataku tiba-tiba menghadirkan kembali aroma parfum kesukaan ku.
“apa?”
“Maaf, aku tahu aku udah bikin kesalahan yang amat sangat fatal, aku tahu aku aku udah bikin kamu nangis, kecewa, marah sama aku. Tapi sekarang, mulai saat ini aku janji, aku gak akan bikin kamu kaya gitu lagi.”
“Jadi maksud kamu?”
“Maaf Dis, aku minta maaf banget, tapi sekarang aku tahu harus kemana arah hubungan ini. Aku udah ngerti harus gimana ngadepin hubungan ini...”
..................
“Dis, maafin aku, kamu mau kan ngelanjutin ini lagi?”
Aku masih aja diam, memikirkan kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang seharusnya aku ungkapkan. Mengutarakan apa yang seharusnya ia dengar.
“Iya, aku maafin, tapi........... seharusnya kamu tahu diri, seperti yang biasa kamu bilang, tahu diri siapa kamu sekarang, siapa kamu dulu... kamu bilang kamu udah tahu mau kemana arah hubungan ini, tapi aku juga tahu, arah tujuan ku udah gak sama lagi sama kamu. Bagaimana aku bisa berjalan dengan orang yang baru aku kenal di persimpangan jalan?”
“Maaf Dis, tapi aku sama sekali gak bermaksud seperti itu..”
“Kamu tau kan? Vas bunga yang udah jatuh, pecah, gak bisa lagi kembali utuh. Sama kaya aku, gak bisa lagi utuh kalo aku harus maksain buat jalanin ini lagi... Maaf Ron...”

“”
Cinta, dan aku masih berpendapat, jika cinta, tak mungkin pada akhirnya harus ada yang terluka dan ada air mata. Jika cinta begitu di paksakan untuk tetap bertahan di keadaan terluka dan air mata, aku yakin itu bukanlah cinta. Tetapi kesedihan yang seharusnya kita redam, buang jauh-jauh.


Unforgettable Conversation



“Kamu tau, kenapa lelaki dan wanita harus berjalan bersama dengan tujuan yang sama?”
“Mungkin karena dengan itulah, kehidupan akan tetap berlangsung”
“Bagaimana jika kedua orang itu harus kembali berjalan sendiri-sendiri?”
“Pastinya kehidupan mereka akan berubah”
“Menurut kamu, kalau dua orang itu sudah berubah jalan, mungkin tidak mereka akan bertemu lagi?”
“Ya enggak lah, mereka sudah berjalan berbeda arah, tujuan mereka pasti sudah berbeda, bagaimana mungkin mereka bertemu lagi?”
“Kenapa ya dua orang yang berjalan udah lama, bersama, tiba-tiba mereka berhenti berjalan dan memutuskan untuk merubah arah mereka?”
“Mungkin karena salah satu dari mereka ada yang merubahnya, waktu, keadaan, orang lain misalnya”
“Bukankah mereka berjalannya bersama-sama? Bagaimana bisa yang berubah hanya salah satu dari mereka?”
“Jika diantara mereka ada yang berubah, pastilah keduanya akan berubah. Berubah karena perubahan sikap salah satunya atau berubah juga karena pengaruh itu tadi, tapi mereka nangkep perubahan itu beda-beda. Makanya perubahan mereka gak sama”
“Aku masih gak paham kenapa dua orang yang begitu lamanya berjalan bersama, begitu eratna mereka bergandengan tangan, seolah mereka tak akan berubah arah, tiba-tiba berhenti. Kira-kira siapa yang memutuskan ingin berhenti?
“Kalo itu aku gak tahu, karena berhenti tidaknya mereka tergatung dari tujuan akhir dan seberapa jauh mereka berjalan. Kalo tujuan akhir mereka udah deket dan tiba-tiba mereka berhenti, pasti mereka udah berjalan terlalu jauh, terlalu lama dan mereka ingin berhenti, mungkin istilahnya capek”
“Waktu bisa aja ngerubah orang ya ternyata”
“Iya, bukan cuman waktu, tapi orang itu sendiri yang juga ingin merubah jalannya.”
“Ardi?”
“Iya Sayang?”
“Kamu gak akan kaya gitu kan?”

“Aku? Hhehe. Aku emang udah lama sama kamu, tapi ketika aku ingin memutuskan berjalan sama kamu, aku sudah tau jalan mana yang akan aku tempuh dan aku juga udah tahu arah mana yang sedang kamu ambil. Berubah, pasti lah orang itu akan berubah seiring berjalannya waktu, keadaan sekitar, dan orang lain yang ingin ngerubah aku, tapi perubahan itu tetep sama, aku berubah menjadi lebih baik karena waktu ku, keadaan ku, dan kamu yang udah ngerubah aku jadi lebih baik. Kalaupun tujuan akhir ku ternyata berbelok arah dengan tujuan akhir kamu, maka aku siap untuk merubah tujuan akhir ku sama dengan tujuan kamu, karena bagaimana jalan ku, kamu lah tujuan ku.”

Isyarat yang kamu terima

Ini cinta, bukan cuman kamu sama aku, tapi juga dia, yang pernah menjadi bagian hidupmu, selama bertahun-tahun, selama itu juga kamu tumbuh dewasa, kamu mengerti bagaimana mencintai dan dicintai, bagaimana bahagia, bagaimana memahami, mengerti, dan bagaimana terluka.
Aku mengenalmu saat kamu masih bersama dia, bersama wanita mu yang selalu kau ceritakan, wanita terindah yang pernah hadir dalam hidupmu. Aku mengenalmu saat cintaku sudah hilang, cintaku yang meninggalkan ku saat aku benar-benar cinta. Dan aku merasa iri, kepada wanita mu, yang pasti sangat bahagia memiliki mu.
Aku tahu, mencintai itu indah, aku tahu, bahagia rasanya disamping orang yang mencintai kita.
Dan ini tetap cinta, ketika aku, dan kamu tanpa dia. Tetapi dengan mereka. Perempuan yang kamu cintai.

“”

“Aku putus sama dia, aku ngerasa bosan” ucap lelaki itu di depan ku dengan wajah begitu sedih dan masih tak percaya harus berpisah dengan seperti ini.
“Loh kok bisa? Kalian udah lama banget, kenapa baru kali ini ngerasa bosen? Mungkin kalian cuman butuh suasana hubungan yang berbeda, coba deh liburan sama-sama” nasihat ku yang entah bagaimana aku bisa mengatakan seperti itu, padahal dalam hati, ada setengah kegembiraan saat dia mengucap, mereka sudah berpisah.
“Enggak tau, aku sudah berkali-kali ngerasain kaya gini, dan sekarang emang bener-bener aku bosan. Ini bukan lagi cinta.”
“Kenapa dua orang yang udah saling cinta, harus kembali berjalan sendiri-sendiri?”
“Karena jalan kita sudah berbeda, dia kearah yang lebih baik, sedangkan aku, masih mengingin kan arah ini”
Aku gak bisa berkata-kata, ini realita hidup yang memang bahagia itu berbanding lurus dengan kesedihan.

“”
Aku masih menjalin komunikasi dengan lelaki itu, dengan canda dan tawa ini, aku berbagi kesedihan dengannya, karna dia selalu menawarkan bahu untuk setiap kesedihanku.
Aku tak pernah menyebut wanita itu lagi, semenjak dia semakin dekat denganku, aku egois, aku tak pernah ingin dia kembali dengan wanita itu.
“Yuk jalan, kemana aja asal sama kamu deh” ucap ku di atas motornya, aku merasa bahagia, sebahagia wanita yang dulu ia ceritakan. Tapi aku sadar, bahagia akan selalu ada kesedihan nantinya.
Aku menikmati punggungnya, sebagai sandaran ku, aku mencintai lelaki dibalik punggung ini. Tapi aku sadar, semakin jauh aku mengenalnya, aku takut ia akan merasa bosan seperti apa yang dia lakukan dengan wanita itu.
“Kamu mau kemana besok? Aku jemput pagi-pagi ya”
“Mau kemana? Yasudah jangan pagi-pagi banget ya”
“Iya, pasti kamu seneng kok”

Dia mengajak ku ketempat favoritnya, Lapangan sepak bola, kesebelasan yang ia dukung.
Dia menceritakan berbagai banyak hal, yang tentunya tentang bola dan dirinya sendiri. Aku hanya mendengar dan sesekali bercerita tentang diriku, yang singkat.
Ini adalah unforgetable conversation bagiku, karena aku lebih mengerti bagaimana dia, bagaimana kehidupannya dan bagaimana sikapnya.

“”

“Aku mau cerita sama kamu, karna kamu udah sering banget dengerin cerita ku, aku udah gak ragu nih buat cerita ke kamu, tentang dia”
“Siapa? Tambatan hati yang baru?” dengan senyum yang biasa, aku seolah tak merasakan sakit.
“Iya, tapi bukan baru sih, udah lama aku suka sama cewek ini, tapi mesti kalah satu langkah, aku suka banget dari dulu awal aku kenal dia sampai sekarang, tapi dia udah punya cowok”
“Kamu sih, kalo suka langsung ngomong dong, biar gak sedih di akhir kaya gini” sebenarnya ini adalah ucapan yang pantas ditujukan untuk diriku sendiri.
“Iya, tapi kondisi dan waktu aja yang gak selalu tepat, mungkin lain kali, kalo dia udah putus sama cowoknya, tapi dia udah tau aku suka sama dia, ya gara-gara waktu dan kondisi aja ini yang susah banget”
“Yasudah, do’ain aja biar cepet putus yah J

“”

Ini bukan masalah aku mencintai tanpa dicintai, tapi aku mencintai seseorang yang seharusnya tak ku cintai, lelaki yang sudah jelas-jelas tak boleh aku cintai, malah harus merasakan begini dalam sakitnya.
Aku berniat untuk diam, tidak pernah lagi membicarakan cinta ini, bukan karena aku takut, tapi karena aku merasa bersalah, mencintai orang yang salah.

Dia sering menceritakan banyak perempuan lain, dan aku hanya bersikap ala kadarnya aku memberikan respon. Aku pernah menjauhinya, tapi ketika dia sadar aku berusaha menjauh dari dia, secepat mungkin aku bersikap seperti biasa, aku gak mau dia mencurigai perubahan sikap ku setelah dia bercerita tentang perempuan-perempuan itu.

“”

Bagaimana aku tidak sakit hati, setelah semua sikap dan perhatiannya yang dia tujukan kepada ku ternyata sama dengan semua perhatian untuk perempuan-perempuan itu.
Ah lelaki sama saja, tapi seharusnya aku tidak marah karena pada awalnya aku memang tau, setiap kebahagiaan, kesedihan akan menanti, kebahagiaan yang ia beri pastilah ada kesedihan.
Aku tetap saja menjadi temannya, mendengarkan berbagai ceritanya, dan akupun menceritakan hidupku, tapi aku sama sekali tak pernah ingin menceritakan cinta ini, cinta yang salah tempat, yang tak seharusnya berlabuh, yang tak seharusnya pernah ada.

Yang aku selali, kamu tak pernah sadar dengan isyarat yang telah kamu terima.


NB: Untuk yang ngerasa tokoh diatas, ini kisah bukan sebenarnya J