Cinta dan waktu
akan saling berkaitan, lamanya waktu mungkin akan mempengaruhi cinta. Dan aku
harap cintaku ini akan selalu tumbuh seiring berjalannya waktu, hubungan ku
dengan lelaki yang ku cintai, yang sudah mendampingiku selama 4 tahun, yang
sudah berbagi segala kisah hidupnya dengan ku, lelaki yang amat ku cintai
setelah Ayah ku, lelaki yang sampai saat ini, aku berdo’a dia menjadi jodohku
nantinya.
Lelaki ini
bukanlah type yang sama dengan lelaki lain di luar sana, dia tak pernah
menuntut ku untuk ini itu, karena, menurut dia, suatu hubungan bukanlah karena
tuntutan, batasan, kekangan, tapi kita harus saling tahu diri. Aku tahu diri,
aku siapa, jadi aku tahu batasan ku ketika aku di luar, aku tahu diri aku
memberi kepercayaan penuh kepada dia, karena aku tahu, aku sudah memegang
komitmen untuk saling bersama. Kepercayaan, kejujuran, setia, lelaki ini tak
pernah memaksa ku untuk melakukan hal ini, karena pada dasarnya aku sudah tahu,
ini lah sesuatu yang harus dijalani oleh dua orang yang sudah berkomitmen untuk
bersama.
“”
To : Dearest
Bagaimana pagi
mu hari ini? Aku harap masih mencintai ku
From : Dearest
Aku masih
mencintai mu dan akan tetap selalu mencintai mu
Kita bukan lagi
remaja yang di mabuk cinta dengan komunikasi yang terlalu sering, aku
menyapanya setiap pagi, dan terkadang, sapaan pagi akan menjadi sapaan terakhir
di hari ini. Lelaki ini sudah mencintai ku, bagi ku adalah cukup, saling mencintai
adalah sesuatu yang penting dalam setiap hubungan.
Tapi, bukan
berarti tak mencintai, kita bisa saja berhenti untuk bersama, karena akan
selalu ada aku yang mencintai mu, tanpa perlu kamu mencintai ku, aku masih
ingin tetap kita bersama.
“”
“sudah lama kita
gak pergi bareng, aku kangen suasana malem seperti ini” di tengah keramaian
cafe ini, aku mencoba untuk tetap menunjukkan seberapa pentingnya arti hadirnya
untuk setiap malam ku.
“iya, aku juga
kangen, tapi aku mau ngomong sesuatu sama kamu”
“apa? Apa ada
yang serius?”
“kamu tau, kita
sudah lama seperti ini, bersama, setiap waktu.......”
“engga, kita
udah jarang ketemu.....”
“iya, maksud ku,
kita udah lama bersama.... dan sepertinya aku masih harus mikir lagi, harus
menjalani hubungan ini atau engga....”
..............
“maafin aku...”
Aku gak ngerti
harus gimana lagi kecuali menangis, menangis, menangis.... memohon untuk dia
tetap tinggal, tapi tetap bibir terlalu kelu untuk mengeluarkan kata-kata
memohon.... aku sama sekali nggak ngerti, bukankah cinta saja sudah cukup untuk
membuat orang tetap tinggal di samping kita?
“kamu
selingkuh?” tanya ku dengan segala kekuatan ku
“enggak, aku
enggak pernah selingkuh sekalipun itu, aku cuman masih harus mikir bagaimana
kelanjutan hubungan ini, bukan berarti aku udah gak sayang kamu... justru aku
sayang banget sama kamu”
“bohong, kalo
kamu sayang, kenapa harus kaya gini, bukankah cinta aja udah cukup untuk tau
bagaimana kelanjutan hubungan ini?”
Aku
meninggalkannya sendiri disana, dan aku masih belum paham, bagaimana bisa dua
orang manusia yang sudah bersama-sama begitu lamanya mencintai, berbagi kasih
sayang, tiba-tiba berjalan sendiri-sendiri lagi. Cinta yang sudah begitu
menyenangkan tiba-tiba harus ada kenangan yang menyedihkan. Cinta yang sudah
begitu eratnya, dengan mudah terpisah dengan tiba-tiba. Sebenarnya itu apa?
Haruskah ada hal yang begitu menyedihkan dalam cinta? Haruskah cinta itu di
sertai dengan tangisan? Haruskah cinta itu pada akhirnya akan ditinggalkan?
Aku harus
mencari tau, ini bukan lah akhir dari cinta, jika ternyata ada airmata yang
harus menetes pada setiap cinta.
“”
Aku mendatangi
kampus ini lagi, setelah peristiwa yang begitu menyayat sehingga sekecil apapun
cahaya harapan untuk kembali bersama, terasa begitu membahagiakan.
Aku berharap
mendapat jawaban yang berbeda, ketika lelaki yang sudah ku kenal lama ini
melihat ku dengan wajah yang tak ku tunjukan kesedihan. Aku berharap ia dapat
menarik ucapan yang sama sekali aku belum bisa lupakan, sehuruf pun apa yang di
ucapkannya.
“Selamat pagi,
bagaimana hari mu hari ini?” sapa ku dengan ku tahan semua airmata yang ingin
menetes tapi masih ku tahan demi lelaki yang paling ku cintai ini.
“Selamat pagi,
kamu ngapain kesini? Cepet pulang gih, mendung banget sekarang... aku ada
kelas, aku ke kelas dulu ya..” lalu pergi, tanpa kata-kata lain yang sangat
ingin ku dengar....Sayang...
Aku masih belum
ingin menyerah, untuk memperbaiki apa yang sebenarnya harus di perbaiki, aku
masih akan terus memohon, sampai lelaki ini benar-benar menunjukkan bahwa dia
udah gak mau lagi dengan ku. Karena aku sangat yakin, bukan cinta jika pada
akhirnya harus ada yang terluka.
“”
“Aku mau ngomong
sama kamu”
“Maaf, aku ada
urusan lain....”
Ini bukan lelaki
yang sudah mendampingi ku 4 tahun, ini bukan lelaki yang mencintaiku seperti
biasanya.
“Yasudah, aku
cuman mau bilang, makasih, makasih kamu udah nunjukin sikap ini, sikap yang
bilang, kalau kamu udah gak mau lagi sama aku, okee aku akan berhenti memohon
ke kamu, ngejar-ngejar kamu, percuma kalo kamunya sendiri gak mau di kejar.
Makasih untuk semua dan maaf. Dan perlu kamu tau, hargailah orang-orang yang
mencintaimu, karena ia berkorban, mengemis cinta untuk mu, karena ia hanya
ingin menunjukkan seberapa berharganya kamu untuk dia. Makasih, aku cukup tahu
diri sekarang”
Aku kuat, aku
harus kuat tanpa air mata yang dapat melemah kan ku, aku harus kuat, karena air
mata bukanlah cara yang terbaik untuk mengatasi masalah, aku harus kuat, karena
aku tau, ini bukanlah cinta yang seperti orang bicarakan.
“”
Lama sudah aku
sendiri, berjalan sendiri, tanpa orang yang ku cintai lagi, tanpa orang yang
sering ku kasihi, dan aku mengerti, ada kalanya kita harus sendiri, dan ada
kalanya kita harus bersama. Mungkin memang ini waktunya aku sendiri. Bukan
karena aku yang ingin sendiri, tapi dia, lelaki itu menginginkan aku sendirian.
Jika pada
akhirnya dua orang itu harus berjalan sendiri-sendiri dengan tujuan yang
berbeda, percuma waktu yang telah mereka jalani bersama jika mereka belum bisa
mengubah jalan tujuan mereka menjadi sama.
Jika ternyata
tujuan mereka berbeda pada awalnya, kenapa mereka bisa bertemu di persimpangan
jalan?
Kalau ada dua
orang yang memutuskan untuk berjalan bersama-sama, berarti mereka punya tujuan
yang sama, jika di tengah jalan mereka berpisah, itu berarti mereka hanya ingin
mencari teman ketika di perjalanan, bukan berjalan untuk mencapai tujuan.
Aku menyakini,
orang yang sudah sekian lama berjalan bersama, ketika berhenti di tengah jalan
dengan alasan tujuan mereka berbeda, sebenarnya salah satu dari mereka belum
memiliki tujuan.
Lelaki yang dulu
amat ku cintai memutuskan berjalan dengan ku dengan tujuan yang sama, jika pada
akhirnya dia mulai goyah untuk melanjutkan perjalanan ini atau enggak, aku rasa
dia masih belum memiliki tujuan. Bagaimana bisa aku berjalan dengan seseorang
yang buta arah?
“”
“Dis, aku mau
ngomong.. dengerin aku sebentar aja”
Lelaki yang
masih begitu hangat di mataku tiba-tiba menghadirkan kembali aroma parfum
kesukaan ku.
“apa?”
“Maaf, aku tahu
aku udah bikin kesalahan yang amat sangat fatal, aku tahu aku aku udah bikin
kamu nangis, kecewa, marah sama aku. Tapi sekarang, mulai saat ini aku janji,
aku gak akan bikin kamu kaya gitu lagi.”
“Jadi maksud
kamu?”
“Maaf Dis, aku
minta maaf banget, tapi sekarang aku tahu harus kemana arah hubungan ini. Aku udah
ngerti harus gimana ngadepin hubungan ini...”
..................
“Dis, maafin
aku, kamu mau kan ngelanjutin ini lagi?”
Aku masih aja
diam, memikirkan kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang seharusnya aku
ungkapkan. Mengutarakan apa yang seharusnya ia dengar.
“Iya, aku
maafin, tapi........... seharusnya kamu tahu diri, seperti yang biasa kamu
bilang, tahu diri siapa kamu sekarang, siapa kamu dulu... kamu bilang kamu udah
tahu mau kemana arah hubungan ini, tapi aku juga tahu, arah tujuan ku udah gak
sama lagi sama kamu. Bagaimana aku bisa berjalan dengan orang yang baru aku
kenal di persimpangan jalan?”
“Maaf Dis, tapi
aku sama sekali gak bermaksud seperti itu..”
“Kamu tau kan?
Vas bunga yang udah jatuh, pecah, gak bisa lagi kembali utuh. Sama kaya aku,
gak bisa lagi utuh kalo aku harus maksain buat jalanin ini lagi... Maaf Ron...”
“”
Cinta, dan aku
masih berpendapat, jika cinta, tak mungkin pada akhirnya harus ada yang terluka
dan ada air mata. Jika cinta begitu di paksakan untuk tetap bertahan di keadaan
terluka dan air mata, aku yakin itu bukanlah cinta. Tetapi kesedihan yang
seharusnya kita redam, buang jauh-jauh.