Labels

Jumat, 03 Januari 2014

gak ngerti kudu dikasih judul apa~~

Cinta dan waktu akan saling berkaitan, lamanya waktu mungkin akan mempengaruhi cinta. Dan aku harap cintaku ini akan selalu tumbuh seiring berjalannya waktu, hubungan ku dengan lelaki yang ku cintai, yang sudah mendampingiku selama 4 tahun, yang sudah berbagi segala kisah hidupnya dengan ku, lelaki yang amat ku cintai setelah Ayah ku, lelaki yang sampai saat ini, aku berdo’a dia menjadi jodohku nantinya.
Lelaki ini bukanlah type yang sama dengan lelaki lain di luar sana, dia tak pernah menuntut ku untuk ini itu, karena, menurut dia, suatu hubungan bukanlah karena tuntutan, batasan, kekangan, tapi kita harus saling tahu diri. Aku tahu diri, aku siapa, jadi aku tahu batasan ku ketika aku di luar, aku tahu diri aku memberi kepercayaan penuh kepada dia, karena aku tahu, aku sudah memegang komitmen untuk saling bersama. Kepercayaan, kejujuran, setia, lelaki ini tak pernah memaksa ku untuk melakukan hal ini, karena pada dasarnya aku sudah tahu, ini lah sesuatu yang harus dijalani oleh dua orang yang sudah berkomitmen untuk bersama.

“”
To : Dearest
Bagaimana pagi mu hari ini? Aku harap masih mencintai ku
From : Dearest
Aku masih mencintai mu dan akan tetap selalu mencintai mu

Kita bukan lagi remaja yang di mabuk cinta dengan komunikasi yang terlalu sering, aku menyapanya setiap pagi, dan terkadang, sapaan pagi akan menjadi sapaan terakhir di hari ini. Lelaki ini sudah mencintai ku, bagi ku adalah cukup, saling mencintai adalah sesuatu yang penting dalam setiap hubungan.
Tapi, bukan berarti tak mencintai, kita bisa saja berhenti untuk bersama, karena akan selalu ada aku yang mencintai mu, tanpa perlu kamu mencintai ku, aku masih ingin tetap kita bersama.

“”
“sudah lama kita gak pergi bareng, aku kangen suasana malem seperti ini” di tengah keramaian cafe ini, aku mencoba untuk tetap menunjukkan seberapa pentingnya arti hadirnya untuk setiap malam ku.
“iya, aku juga kangen, tapi aku mau ngomong sesuatu sama kamu”
“apa? Apa ada yang serius?”
“kamu tau, kita sudah lama seperti ini, bersama, setiap waktu.......”
“engga, kita udah jarang ketemu.....”
“iya, maksud ku, kita udah lama bersama.... dan sepertinya aku masih harus mikir lagi, harus menjalani hubungan ini atau engga....”
..............
“maafin aku...”
Aku gak ngerti harus gimana lagi kecuali menangis, menangis, menangis.... memohon untuk dia tetap tinggal, tapi tetap bibir terlalu kelu untuk mengeluarkan kata-kata memohon.... aku sama sekali nggak ngerti, bukankah cinta saja sudah cukup untuk membuat orang tetap tinggal di samping kita?
“kamu selingkuh?” tanya ku dengan segala kekuatan ku
“enggak, aku enggak pernah selingkuh sekalipun itu, aku cuman masih harus mikir bagaimana kelanjutan hubungan ini, bukan berarti aku udah gak sayang kamu... justru aku sayang banget sama kamu”
“bohong, kalo kamu sayang, kenapa harus kaya gini, bukankah cinta aja udah cukup untuk tau bagaimana kelanjutan hubungan ini?”

Aku meninggalkannya sendiri disana, dan aku masih belum paham, bagaimana bisa dua orang manusia yang sudah bersama-sama begitu lamanya mencintai, berbagi kasih sayang, tiba-tiba berjalan sendiri-sendiri lagi. Cinta yang sudah begitu menyenangkan tiba-tiba harus ada kenangan yang menyedihkan. Cinta yang sudah begitu eratnya, dengan mudah terpisah dengan tiba-tiba. Sebenarnya itu apa? Haruskah ada hal yang begitu menyedihkan dalam cinta? Haruskah cinta itu di sertai dengan tangisan? Haruskah cinta itu pada akhirnya akan ditinggalkan?

Aku harus mencari tau, ini bukan lah akhir dari cinta, jika ternyata ada airmata yang harus menetes pada setiap cinta.

“”

Aku mendatangi kampus ini lagi, setelah peristiwa yang begitu menyayat sehingga sekecil apapun cahaya harapan untuk kembali bersama, terasa begitu membahagiakan.
Aku berharap mendapat jawaban yang berbeda, ketika lelaki yang sudah ku kenal lama ini melihat ku dengan wajah yang tak ku tunjukan kesedihan. Aku berharap ia dapat menarik ucapan yang sama sekali aku belum bisa lupakan, sehuruf pun apa yang di ucapkannya.

“Selamat pagi, bagaimana hari mu hari ini?” sapa ku dengan ku tahan semua airmata yang ingin menetes tapi masih ku tahan demi lelaki yang paling ku cintai ini.
“Selamat pagi, kamu ngapain kesini? Cepet pulang gih, mendung banget sekarang... aku ada kelas, aku ke kelas dulu ya..” lalu pergi, tanpa kata-kata lain yang sangat ingin ku dengar....Sayang...

Aku masih belum ingin menyerah, untuk memperbaiki apa yang sebenarnya harus di perbaiki, aku masih akan terus memohon, sampai lelaki ini benar-benar menunjukkan bahwa dia udah gak mau lagi dengan ku. Karena aku sangat yakin, bukan cinta jika pada akhirnya harus ada yang terluka.

“”

“Aku mau ngomong sama kamu”
“Maaf, aku ada urusan lain....”
Ini bukan lelaki yang sudah mendampingi ku 4 tahun, ini bukan lelaki yang mencintaiku seperti biasanya.
“Yasudah, aku cuman mau bilang, makasih, makasih kamu udah nunjukin sikap ini, sikap yang bilang, kalau kamu udah gak mau lagi sama aku, okee aku akan berhenti memohon ke kamu, ngejar-ngejar kamu, percuma kalo kamunya sendiri gak mau di kejar. Makasih untuk semua dan maaf. Dan perlu kamu tau, hargailah orang-orang yang mencintaimu, karena ia berkorban, mengemis cinta untuk mu, karena ia hanya ingin menunjukkan seberapa berharganya kamu untuk dia. Makasih, aku cukup tahu diri sekarang”

Aku kuat, aku harus kuat tanpa air mata yang dapat melemah kan ku, aku harus kuat, karena air mata bukanlah cara yang terbaik untuk mengatasi masalah, aku harus kuat, karena aku tau, ini bukanlah cinta yang seperti orang bicarakan.


“”

Lama sudah aku sendiri, berjalan sendiri, tanpa orang yang ku cintai lagi, tanpa orang yang sering ku kasihi, dan aku mengerti, ada kalanya kita harus sendiri, dan ada kalanya kita harus bersama. Mungkin memang ini waktunya aku sendiri. Bukan karena aku yang ingin sendiri, tapi dia, lelaki itu menginginkan aku sendirian.

Jika pada akhirnya dua orang itu harus berjalan sendiri-sendiri dengan tujuan yang berbeda, percuma waktu yang telah mereka jalani bersama jika mereka belum bisa mengubah jalan tujuan mereka menjadi sama.

Jika ternyata tujuan mereka berbeda pada awalnya, kenapa mereka bisa bertemu di persimpangan jalan?

Kalau ada dua orang yang memutuskan untuk berjalan bersama-sama, berarti mereka punya tujuan yang sama, jika di tengah jalan mereka berpisah, itu berarti mereka hanya ingin mencari teman ketika di perjalanan, bukan berjalan untuk mencapai tujuan.

Aku menyakini, orang yang sudah sekian lama berjalan bersama, ketika berhenti di tengah jalan dengan alasan tujuan mereka berbeda, sebenarnya salah satu dari mereka belum memiliki tujuan.

Lelaki yang dulu amat ku cintai memutuskan berjalan dengan ku dengan tujuan yang sama, jika pada akhirnya dia mulai goyah untuk melanjutkan perjalanan ini atau enggak, aku rasa dia masih belum memiliki tujuan. Bagaimana bisa aku berjalan dengan seseorang yang buta arah?

“”

“Dis, aku mau ngomong.. dengerin aku sebentar aja”
Lelaki yang masih begitu hangat di mataku tiba-tiba menghadirkan kembali aroma parfum kesukaan ku.
“apa?”
“Maaf, aku tahu aku udah bikin kesalahan yang amat sangat fatal, aku tahu aku aku udah bikin kamu nangis, kecewa, marah sama aku. Tapi sekarang, mulai saat ini aku janji, aku gak akan bikin kamu kaya gitu lagi.”
“Jadi maksud kamu?”
“Maaf Dis, aku minta maaf banget, tapi sekarang aku tahu harus kemana arah hubungan ini. Aku udah ngerti harus gimana ngadepin hubungan ini...”
..................
“Dis, maafin aku, kamu mau kan ngelanjutin ini lagi?”
Aku masih aja diam, memikirkan kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang seharusnya aku ungkapkan. Mengutarakan apa yang seharusnya ia dengar.
“Iya, aku maafin, tapi........... seharusnya kamu tahu diri, seperti yang biasa kamu bilang, tahu diri siapa kamu sekarang, siapa kamu dulu... kamu bilang kamu udah tahu mau kemana arah hubungan ini, tapi aku juga tahu, arah tujuan ku udah gak sama lagi sama kamu. Bagaimana aku bisa berjalan dengan orang yang baru aku kenal di persimpangan jalan?”
“Maaf Dis, tapi aku sama sekali gak bermaksud seperti itu..”
“Kamu tau kan? Vas bunga yang udah jatuh, pecah, gak bisa lagi kembali utuh. Sama kaya aku, gak bisa lagi utuh kalo aku harus maksain buat jalanin ini lagi... Maaf Ron...”

“”
Cinta, dan aku masih berpendapat, jika cinta, tak mungkin pada akhirnya harus ada yang terluka dan ada air mata. Jika cinta begitu di paksakan untuk tetap bertahan di keadaan terluka dan air mata, aku yakin itu bukanlah cinta. Tetapi kesedihan yang seharusnya kita redam, buang jauh-jauh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar