Ini cinta, bukan cuman
kamu sama aku, tapi juga dia, yang pernah menjadi bagian hidupmu, selama
bertahun-tahun, selama itu juga kamu tumbuh dewasa, kamu mengerti bagaimana
mencintai dan dicintai, bagaimana bahagia, bagaimana memahami, mengerti, dan bagaimana
terluka.
Aku mengenalmu saat
kamu masih bersama dia, bersama wanita mu yang selalu kau ceritakan, wanita
terindah yang pernah hadir dalam hidupmu. Aku mengenalmu saat cintaku sudah
hilang, cintaku yang meninggalkan ku saat aku benar-benar cinta. Dan aku merasa
iri, kepada wanita mu, yang pasti sangat bahagia memiliki mu.
Aku tahu, mencintai itu
indah, aku tahu, bahagia rasanya disamping orang yang mencintai kita.
Dan ini tetap cinta,
ketika aku, dan kamu tanpa dia. Tetapi dengan mereka. Perempuan yang kamu
cintai.
“”
“Aku putus sama dia,
aku ngerasa bosan” ucap lelaki itu di depan ku dengan wajah begitu sedih dan
masih tak percaya harus berpisah dengan seperti ini.
“Loh kok bisa? Kalian
udah lama banget, kenapa baru kali ini ngerasa bosen? Mungkin kalian cuman
butuh suasana hubungan yang berbeda, coba deh liburan sama-sama” nasihat ku
yang entah bagaimana aku bisa mengatakan seperti itu, padahal dalam hati, ada
setengah kegembiraan saat dia mengucap, mereka sudah berpisah.
“Enggak tau, aku sudah berkali-kali
ngerasain kaya gini, dan sekarang emang bener-bener aku bosan. Ini bukan lagi
cinta.”
“Kenapa dua orang yang
udah saling cinta, harus kembali berjalan sendiri-sendiri?”
“Karena jalan kita
sudah berbeda, dia kearah yang lebih baik, sedangkan aku, masih mengingin kan
arah ini”
Aku gak bisa
berkata-kata, ini realita hidup yang memang bahagia itu berbanding lurus dengan
kesedihan.
“”
Aku masih menjalin
komunikasi dengan lelaki itu, dengan canda dan tawa ini, aku berbagi kesedihan
dengannya, karna dia selalu menawarkan bahu untuk setiap kesedihanku.
Aku tak pernah menyebut
wanita itu lagi, semenjak dia semakin dekat denganku, aku egois, aku tak pernah
ingin dia kembali dengan wanita itu.
“Yuk jalan, kemana aja
asal sama kamu deh” ucap ku di atas motornya, aku merasa bahagia, sebahagia
wanita yang dulu ia ceritakan. Tapi aku sadar, bahagia akan selalu ada
kesedihan nantinya.
Aku menikmati
punggungnya, sebagai sandaran ku, aku mencintai lelaki dibalik punggung ini.
Tapi aku sadar, semakin jauh aku mengenalnya, aku takut ia akan merasa bosan
seperti apa yang dia lakukan dengan wanita itu.
“Kamu mau kemana besok?
Aku jemput pagi-pagi ya”
“Mau kemana? Yasudah
jangan pagi-pagi banget ya”
“Iya, pasti kamu seneng
kok”
Dia mengajak ku
ketempat favoritnya, Lapangan sepak bola, kesebelasan yang ia dukung.
Dia menceritakan
berbagai banyak hal, yang tentunya tentang bola dan dirinya sendiri. Aku hanya
mendengar dan sesekali bercerita tentang diriku, yang singkat.
Ini adalah unforgetable
conversation bagiku, karena aku lebih mengerti bagaimana dia, bagaimana
kehidupannya dan bagaimana sikapnya.
“”
“Aku mau cerita sama
kamu, karna kamu udah sering banget dengerin cerita ku, aku udah gak ragu nih
buat cerita ke kamu, tentang dia”
“Siapa? Tambatan hati
yang baru?” dengan senyum yang biasa, aku seolah tak merasakan sakit.
“Iya, tapi bukan baru
sih, udah lama aku suka sama cewek ini, tapi mesti kalah satu langkah, aku suka
banget dari dulu awal aku kenal dia sampai sekarang, tapi dia udah punya cowok”
“Kamu sih, kalo suka
langsung ngomong dong, biar gak sedih di akhir kaya gini” sebenarnya ini adalah
ucapan yang pantas ditujukan untuk diriku sendiri.
“Iya, tapi kondisi dan
waktu aja yang gak selalu tepat, mungkin lain kali, kalo dia udah putus sama
cowoknya, tapi dia udah tau aku suka sama dia, ya gara-gara waktu dan kondisi
aja ini yang susah banget”
“Yasudah, do’ain aja
biar cepet putus yah J “
“”
Ini bukan masalah aku
mencintai tanpa dicintai, tapi aku mencintai seseorang yang seharusnya tak ku
cintai, lelaki yang sudah jelas-jelas tak boleh aku cintai, malah harus
merasakan begini dalam sakitnya.
Aku berniat untuk diam,
tidak pernah lagi membicarakan cinta ini, bukan karena aku takut, tapi karena
aku merasa bersalah, mencintai orang yang salah.
Dia sering menceritakan
banyak perempuan lain, dan aku hanya bersikap ala kadarnya aku memberikan
respon. Aku pernah menjauhinya, tapi ketika dia sadar aku berusaha menjauh dari
dia, secepat mungkin aku bersikap seperti biasa, aku gak mau dia mencurigai
perubahan sikap ku setelah dia bercerita tentang perempuan-perempuan itu.
“”
Bagaimana aku tidak
sakit hati, setelah semua sikap dan perhatiannya yang dia tujukan kepada ku
ternyata sama dengan semua perhatian untuk perempuan-perempuan itu.
Ah lelaki sama saja, tapi
seharusnya aku tidak marah karena pada awalnya aku memang tau, setiap
kebahagiaan, kesedihan akan menanti, kebahagiaan yang ia beri pastilah ada
kesedihan.
Aku tetap saja menjadi
temannya, mendengarkan berbagai ceritanya, dan akupun menceritakan hidupku,
tapi aku sama sekali tak pernah ingin menceritakan cinta ini, cinta yang salah
tempat, yang tak seharusnya berlabuh, yang tak seharusnya pernah ada.
Yang aku selali, kamu
tak pernah sadar dengan isyarat yang telah kamu terima.
NB: Untuk yang ngerasa
tokoh diatas, ini kisah bukan sebenarnya J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar