Labels

Jumat, 03 Januari 2014

Isyarat yang kamu terima

Ini cinta, bukan cuman kamu sama aku, tapi juga dia, yang pernah menjadi bagian hidupmu, selama bertahun-tahun, selama itu juga kamu tumbuh dewasa, kamu mengerti bagaimana mencintai dan dicintai, bagaimana bahagia, bagaimana memahami, mengerti, dan bagaimana terluka.
Aku mengenalmu saat kamu masih bersama dia, bersama wanita mu yang selalu kau ceritakan, wanita terindah yang pernah hadir dalam hidupmu. Aku mengenalmu saat cintaku sudah hilang, cintaku yang meninggalkan ku saat aku benar-benar cinta. Dan aku merasa iri, kepada wanita mu, yang pasti sangat bahagia memiliki mu.
Aku tahu, mencintai itu indah, aku tahu, bahagia rasanya disamping orang yang mencintai kita.
Dan ini tetap cinta, ketika aku, dan kamu tanpa dia. Tetapi dengan mereka. Perempuan yang kamu cintai.

“”

“Aku putus sama dia, aku ngerasa bosan” ucap lelaki itu di depan ku dengan wajah begitu sedih dan masih tak percaya harus berpisah dengan seperti ini.
“Loh kok bisa? Kalian udah lama banget, kenapa baru kali ini ngerasa bosen? Mungkin kalian cuman butuh suasana hubungan yang berbeda, coba deh liburan sama-sama” nasihat ku yang entah bagaimana aku bisa mengatakan seperti itu, padahal dalam hati, ada setengah kegembiraan saat dia mengucap, mereka sudah berpisah.
“Enggak tau, aku sudah berkali-kali ngerasain kaya gini, dan sekarang emang bener-bener aku bosan. Ini bukan lagi cinta.”
“Kenapa dua orang yang udah saling cinta, harus kembali berjalan sendiri-sendiri?”
“Karena jalan kita sudah berbeda, dia kearah yang lebih baik, sedangkan aku, masih mengingin kan arah ini”
Aku gak bisa berkata-kata, ini realita hidup yang memang bahagia itu berbanding lurus dengan kesedihan.

“”
Aku masih menjalin komunikasi dengan lelaki itu, dengan canda dan tawa ini, aku berbagi kesedihan dengannya, karna dia selalu menawarkan bahu untuk setiap kesedihanku.
Aku tak pernah menyebut wanita itu lagi, semenjak dia semakin dekat denganku, aku egois, aku tak pernah ingin dia kembali dengan wanita itu.
“Yuk jalan, kemana aja asal sama kamu deh” ucap ku di atas motornya, aku merasa bahagia, sebahagia wanita yang dulu ia ceritakan. Tapi aku sadar, bahagia akan selalu ada kesedihan nantinya.
Aku menikmati punggungnya, sebagai sandaran ku, aku mencintai lelaki dibalik punggung ini. Tapi aku sadar, semakin jauh aku mengenalnya, aku takut ia akan merasa bosan seperti apa yang dia lakukan dengan wanita itu.
“Kamu mau kemana besok? Aku jemput pagi-pagi ya”
“Mau kemana? Yasudah jangan pagi-pagi banget ya”
“Iya, pasti kamu seneng kok”

Dia mengajak ku ketempat favoritnya, Lapangan sepak bola, kesebelasan yang ia dukung.
Dia menceritakan berbagai banyak hal, yang tentunya tentang bola dan dirinya sendiri. Aku hanya mendengar dan sesekali bercerita tentang diriku, yang singkat.
Ini adalah unforgetable conversation bagiku, karena aku lebih mengerti bagaimana dia, bagaimana kehidupannya dan bagaimana sikapnya.

“”

“Aku mau cerita sama kamu, karna kamu udah sering banget dengerin cerita ku, aku udah gak ragu nih buat cerita ke kamu, tentang dia”
“Siapa? Tambatan hati yang baru?” dengan senyum yang biasa, aku seolah tak merasakan sakit.
“Iya, tapi bukan baru sih, udah lama aku suka sama cewek ini, tapi mesti kalah satu langkah, aku suka banget dari dulu awal aku kenal dia sampai sekarang, tapi dia udah punya cowok”
“Kamu sih, kalo suka langsung ngomong dong, biar gak sedih di akhir kaya gini” sebenarnya ini adalah ucapan yang pantas ditujukan untuk diriku sendiri.
“Iya, tapi kondisi dan waktu aja yang gak selalu tepat, mungkin lain kali, kalo dia udah putus sama cowoknya, tapi dia udah tau aku suka sama dia, ya gara-gara waktu dan kondisi aja ini yang susah banget”
“Yasudah, do’ain aja biar cepet putus yah J

“”

Ini bukan masalah aku mencintai tanpa dicintai, tapi aku mencintai seseorang yang seharusnya tak ku cintai, lelaki yang sudah jelas-jelas tak boleh aku cintai, malah harus merasakan begini dalam sakitnya.
Aku berniat untuk diam, tidak pernah lagi membicarakan cinta ini, bukan karena aku takut, tapi karena aku merasa bersalah, mencintai orang yang salah.

Dia sering menceritakan banyak perempuan lain, dan aku hanya bersikap ala kadarnya aku memberikan respon. Aku pernah menjauhinya, tapi ketika dia sadar aku berusaha menjauh dari dia, secepat mungkin aku bersikap seperti biasa, aku gak mau dia mencurigai perubahan sikap ku setelah dia bercerita tentang perempuan-perempuan itu.

“”

Bagaimana aku tidak sakit hati, setelah semua sikap dan perhatiannya yang dia tujukan kepada ku ternyata sama dengan semua perhatian untuk perempuan-perempuan itu.
Ah lelaki sama saja, tapi seharusnya aku tidak marah karena pada awalnya aku memang tau, setiap kebahagiaan, kesedihan akan menanti, kebahagiaan yang ia beri pastilah ada kesedihan.
Aku tetap saja menjadi temannya, mendengarkan berbagai ceritanya, dan akupun menceritakan hidupku, tapi aku sama sekali tak pernah ingin menceritakan cinta ini, cinta yang salah tempat, yang tak seharusnya berlabuh, yang tak seharusnya pernah ada.

Yang aku selali, kamu tak pernah sadar dengan isyarat yang telah kamu terima.


NB: Untuk yang ngerasa tokoh diatas, ini kisah bukan sebenarnya J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar